Wahai Muslimah, Cantik Tidak Seprimitif Itu

Sudah senormalnya, gadis usia remaja memasuki area gawat yang membuat kadang-kadang menimbulkan cemas berlebihan karena mereka beranggapan kelebihan berat badan, kurang tinggi, pipi tembam, alis kurang tajam, bulu mata kurang badai, atau bibir kurang merona menjadi problem yang harus segera teratasi.

Kiat-kita menjaga diri berbentuk pemakaian kosmetik tertentu, koleksi pakaian tertentu, pemakaian gaya tertentu yang melekat dan pada anggota tubuh luar sering lebih digiatkan seiring berjalannya usia.

Gadis-gadis itu memiliki gambaran ideal tersendiri

Lihat saja following instagramnya. Padahal beberapa tahun lalu, ketika usianya belum beranjak belasan, hal-hal semacam itu hanya menjadi tontonan di televisi atau rutinitas ibu mereka saja. Yang ke depannya tidak pernah ia bayangkan jika mereka akan seperti itu, seribet itu.

Di usia yang masih dapat divisualkan dengan kesepuluh jari tangan, setiap harinya sepulang sekolah mereka bahkan takkan bergeming jika seandainya saking emosinya, ibu mereka berkata kalau Belanda datang lagi.

Anak-anak yang tahunya cita-cita hanya berbentuk dokter, guru, dan tentara itu berlari-lari. Bermain campur baur, mereka mengerti teman di hadapannya berjenis kelamin laki-laki dan bergender laki-laki, sedang dia perempuan sebab ia pakai anting.

Tetapi untuk masalah permainan, jelas tak lagi mengenal gender. Sepak bola untuk semua kalangan, laki-laki maupun perempuan. Sampai rumah-rumahan juga tak mengenal bahwa darah kesatria seorang lelaki akan lebur di dalamnya, menjadi lebih kalem. Kadang, laki-laki yang bengisnya minta ampun di lapangan sepak bola, harus jadi ayah-ayahan untuk boneka yang digendong ibu-ibuan, teman perempuan mereka.

Apakah perempuan-perempuan itu sudah menetapkan standar kosmetik tertentu?

Demi melindungi terpaan wajahnya dari sinar matahari, apakah para perempuan itu sudah memiliki standar kosmetik tertentu? Atau para lelaki itu, apakah mereka sudah memedulikan gaya rambutnya yang bagaimana agar bisa menggoda lawan mainnya?
Fragmen hidup yang menyenangkan.

Menjejaki fragmen yang lebih tinggi dan kompleks, anak-anak itu tumbuh. Meletakkan definisi cantik dan tampan menjadi lebih banyak, lebih detail, dan lebih abstrak.

Memiliki pipi yang tirus, tubuh langsing, semampai, kulit putih, dan aneka bentuk ornamen wajah yang diharapkan banyak remaja, merupakan definisi paling mudah didapat. Masih konkret, anak-anak perempuan yang jadi striker sepak bola di kompleknya pun bisa membedakan kecantikan dan lawan katanya dengan amat mudah, dengan cara seperti di atas.

Tidak ada yang mendebat dan memerdulikan setinggi dan sejauh mana otaknya bekerja, yang penting gak malu-maluin kalo digandeng saat kondangan.

Beauty is like a book. It cannot be judged by its cover

Meloncat ke kubu di seberangnya, katanya “Beauty is like a book. It cannot be judged by its cover”. Nah, ini abstrak. Kita harus menyipitkan mata dan membuka hati untuk mengintip seberapa cantik ia. Tidak penting adanya visualisasi kecantikan lewat eksternal dalam anggota tubuh, jauh lebih penting mendidik intelektual dan rohani yang terpadu bekerjasama guna pencapaian tujuan kehidupan ke depannya. Dan pasti juga untuk urusan seksual.

Maka, kubu konvergensi menjadi andalan. Tidak melupakan salah satu dan mendewakan yang lain. Melainkan, mengharmoniskan keduanya. Kemolekan fisik saja menjadi momok menakutkan jika otak dan hatinya tidak dirias, dipercantik dengan bedak dan pensil yang digunakan memandang dunia jauh ke depan, lebih dalam lagi dan esensial.

Kejernihan rohani yang terus menerus diisi dan dimuluskan akan melahirkan kasih sayang pada pemberian Tuhan berupa fisik yang harus dijaga dan dirawat, lepas dari kepentingan penjagaan terhadap diri sendiri atau untuk urusan seksual ke depannya.

Kecantikan itu amat temporer

Tak dapat ditolak juga kemungkinan bahwa terkadang kecantikan itu amat temporer, sementara waktu. Mungkin saja ibuku memuji kecantikanku ketika aku bekerja membersihkan piring dan baju kotor dengan sangat cepat dan baik.

Mungkin saja teman-temanku diam-diam menuliskan “kamu cantik” di jidatku karena aku mau menraktirnya makan soto di kantin. Mungkin pula, ketika aku masih mengemut jariku dan memakai popok, ayahku memanggilku si cantik karena tidak suka menangis ketika bertandang ke rumah saudara.

Atau temanku yang secara tiba-tiba sumringah dan dengan senyum ramahnya menyambut pundakku untuk direngkuhnya dan mengatakan, “kamu cantik hari ini” karena aku pakai gamis warna pink. Dan mungkin saja seorang suami memuji-muji istrinya yang pandai memasak meski keadaannya sedang berdaster.

Cantik bisa sekompleks ini definisinya, didasarkan oleh berbagai kepentingan dan sesuatu yang melekat.
Lalu, apakah kecantikan dibentuk atau dilahirkan?

Kecantikan adalah salah satu unsur yang ikut lahir ketika sang bayi lahir. Selama sembilan bulan mendekam dalam rahim yang sempit, setelah waktunya tiba sang ibu dan ayah menyaksikan anaknya lahir dengan beban kecantikannya yang kelak akan dipergunakan entah untuk apa saja.

Maka, tugas kedua orang tua dan segenap elemen manusia dewasa dalam kehidupan sang anaklah yang akan membentuk ketelitian anak dalam mendefinisikan kecantikan yang konkret dan abstrak baik untuk dirinya maupun orang lain.

Oleh karena itu, seunggul-unggulnya kita mendewakan kecantikan fisik yang esok akan luntur dan bau tanah, akan lebih bijaknya untuk tak melupakan kecantikan rohani yang semakin tua tibahlah masa dewasanya.

Tidak apa-apa mencemaskan pipi tembam dan warna kulit yang kurang bercahaya, tetapi tidak perlu berlebihan juga. Alih-alih mengkhawatirkan pujaan hati meloyor mencari permata lain, tidak perlu kecemerlangan rohani jadi kerontang dan retak sana-sini.

 

Featured image: Photo on Pexels.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *