Update Kebaikan di Media Sosial untuk Apa? Agar Membantu Malaikat Mencatat Amal Kita?

Malaikat tidak akan butuh bantuan untuk mencatat amal umat manusia, lantas mengapa masih bercerita dan mengunggahnya di media sosial? Benarkah untuk mengajak sesama dalam berbuat kebaikan, atau justru ada sifat riya’ yang terselubung.

Media sosial menjadi tempat paling berpengaruh terhadap cara pandang seseorang perihal apa yang dilihatnya. Postingan yang tujuannya baik pun ada yang menghujat, apalagi unggahan yang memang mengandung unsur mengkritik suatu hal. Pastinya jumlah orang yang berkomentar buruk akan semakin bertambah. Oleh karenanya, biasakan saring sebelum sharing apapun yang akan diunggah ke media sosial.

Nah berbicara mengenai media sosial, terutama pada kondisi pandemi yang masih berlanjut ini hampir semua orang rasa kemanusiaannya meningkat. Mulai dari official accout hingga komunitas maupun grup kecil mengadakan open donasi yang ditujukan untuk menekan jumlah pasien yang positif Covid dengan membantu kebutuhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit. Kegiatan semacam itu memang patut diacungi jempol karena ikut membantu menyalurkan sedekah dari orang-orang dermawan di luar sana.

Sayangnya, kegiatan semacam ini ada saja orang yang melakukannya untuk tujuan lain. Misalnya mengisi feed instagram atau memenuhi status whatsApp dengan berfoto ria menunjukkan kebaikannya atau untuk mengundang rasa trenyuh dari orang lain. Memang, tidak semua orang memiliki pemikiran picik seperti itu, tapi siapa yang tau isi hati seseorang. Apa bisa dipastikan jika tujuan mengunggah di media sosial itu hanya sebagai laporan atau mengajak sesama ikut berbuat kebaikan? Sebelum keseringan mengunggah postingan tentang kebaikan yang dilakukan, coba deh simak penjelasan berikut, Dears.

Malaikat tidak butuh bantuan mencatat amal kita

Pict by Pixabay

Tujuan utama sebenarnya apa sih dengan memposting perbuatan baik yang dilakukan? ingin menghitung amal kebaikan yang sudah dilakukan selama hidup dan dilihat orang banyak, seperti itukah tujuannya? Bukankah kita sebagai umat muslim tahu jika semua amal baik dan buruk selalu dicatat malaikat tanpa terkecuali dan terlewat sekecil apapun.

Lantas gunanya apa masih posting di media sosial. Mungkin saja tidak masalah jika selama menulis cukup di buku catatan pribadi sebagai progress bahwa diri sendiri telah menjadi pribadi lebih baik dari kemarin. Tetapi, jika mengunggahnya di media sosial dengan tambahan caption sebagai pelengkap, takutnya kebaikan yang sudah dilakukan justru tidak bernilai apa-apa.

Sifat riya’ yang terselubung

Pict by Pixabay

Belum lagi jika dalam memposting amal kebaikan yang dilakukan itu mengandung unsur sifat riya’ yang terselubung. Captionnya memang biasa saja, tapi bisa saja dalam hatinya ada keinginan untuk pamer kepada followers jika selalu mengerjakan amal kebaikan terus-menerus. Apalagi jika berkaitan dengan membantu orang yang kurang mampu dengan memperlihatkan wajahnya. Bukankah niat yang seharusnya bernilai kebaikan justru akan sia-sia karena terkesan merendahkan orang lain yang kurang mampu hanya untuk mempertontonkan kebaikan yang sedang dilakukan.

Mengajak sesama ikut berbuat kebaikan atau ingin dipuji

Pict by Pixabay

Apa bisa dipastikan jika dengan memposting kebaikan atau amal ibadah yang dilakukan itu hanya semata-mata untuk mengajak orang lain ikut mengerjakan amal kebaikan yang dilakukan. Atau malah ingin mendapat pujian dari followers media sosial kita. Jika hati belum kuat antara membedakan untuk mengajak orang lain berbuat kebaikan atau ingin mendapatkan pujian orang, alangkah baiknya jika tidak perlu membagikannya di media sosial. Bukankah mendapat simpati dan pujian dari Allah terhadap perbuatan baik yang dilakukan itu lebih berharga daripada hanya mencari pujian dari sesama makhlukNya yang tidak berarti apa-apa.

Dears, tak masalah kok jika kamu juga pernah melakukannya. Tapi luruskan dahulu niat atau tujuan dari memposting amal kebaikan yang telah dilakukan. Tidak perlu semua kebaikan yang kita lakukan harus dipublikasikan di media sosial, biarkan Allah sendiri yang mempublikasikannya besok di akhirat menjadi riwayat kebaikan selama kita di dunia.

 

Featured image: Photo on Pexels.compamer 
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *