Uighur, Etnis Minoritas yang Mengalami Penindasan Hak Asasi

Muslim dunia menjerit. Hashtag #SaveUyghur menjadi viral di media sosial. Ya, kalau kamu masih memiliki hati nurani, pasti sangat tersentuh dengan peristiwa penindasan etnis Uighur ini.

Dunia mengecam aksi penindasan terhadap etnis muslim Uighur oleh pemerintah komunis Cina. Ini mengingatkan kita akan pembersihan etnis muslim Rohingya di Myanmar yang juga mengundang banyak simpati dari masyarakat internasional.

Apa sajakah fakta penting mengenai etnis muslim Uighur ini yang keberadaannya sangat mengiris hati? Simak rangkuman berikut ini yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Bukan yang Pertama Bagi Uighur

Sebenarnya penindasan ini bukan yang pertama kalinya bagi etnis Uighur, Dears. Penangkapan, penyekapan, dan pelarangan melakukan segala hal sebagai seorang muslim, termasuk mengenakan jilbab dan memelihara janggut, telah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka dipaksa untuk meninggalkan agama yang dianut dan dimasukkan ke dalam kamp-kamp tahanan dengan alasan untuk diberikan semacam pelatihan khusus (re-edukasi). Nyatanya, bukan pelatihan yang mereka dapatkan, melainkan justru penyiksaan secara fisik dan mental yang sangat memprihatinkan.

Memiliki Warisan Budaya Tinggi

Etnis Uighur telah hidup dan menetap secara merdeka di tanah mereka sendiri, Uighuristan, sejak 2000 tahun yang lalu. Sebagai keturunan bangsa Turki, mereka memiliki bahasa dan budayanya sendiri. Banyak bangunan, seni budaya, arsitektur, dan bahkan ilmu pengobatan herbal yang diyakini justru berasal dari suku bangsa ini. Sayangnya, pemerintah Cina telanjur mengklaim bahwa Uighuristan termasuk dalam wilayah provinsi Xinjiang, yang merupakan provinsi terbesar di Cina.

Menjadi Etnis Minoritas

Meskipun provinsi Xinjiang telah diberikan hak otonomi penuh untuk mengatur wilayahnya sendiri, tampaknya pemerintah Cina tetap tak ingin lepas tangan. Sejak lebih dari 60 tahun yang lalu, pemerintah pusat di Beijing sengaja mendatangkan suku bangsa Han memasuki wilayah Xinjiang. Ini dimaksudkan untuk menguasai populasi mengalahkan etnis muslim Uighur. Tidak heran jika saat ini di provinsi Xinjiang kehidupan etnis Uighur justru menjadi kaum minoritas yang tertindas.

Sungguh menyedihkan dan memprihatinkan,  ternyata masih begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia dalam beragama di dunia ini.

Jika kamu masih memiliki hati nurani, ayo doakan saudara-saudara kita di sana dan sebarkan pesan kepada dunia, bahwa penindasan terhadap etnis minoritas adalah salah satu hal yang tidak berperikemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *