sustainable

Terapkan Yuk, Dears, Tampil Kece Sambil Menjaga Lingkungan dengan Sustainable Fashion

Dears, apakah kamu tahu, jika t-shirt dan celana jeans yang kamu pakai setiap hari ternyata di produksi dengan membuang 20 ribu liter air? PBB menyebutkan bahwa industri mode sebagai penyumbang 20 persen limbah air dunia dan sekitar 10 persen emisi karbon global.

Bagaimana tidak, setiap harinya industri mode dunia memproduksi outfit baru karena tingginya peminat mode. Fakta ini akhirnya membuat industri mode mulai menerapkan sustainable fashion yang tentunya lebih ramah lingkungan.

Berikut kami ulas mengenai cara menjaga lingkungan dengan menerapkan sustainable fashion. Simak yuk, Dears!

1. Pilih pakaian dengan label organik dan sustainable

Pict by. suberine.com

Sejumlah industri mode terbesar dunia menandatangani G7 Fashion pact dari Global Fashion Agenda, pada bulan Agustus yang lalu. Salah satu bentuk komitmen dalam G7 Fashion pact tersebut yaitu untuk mengurangi dampak industri terhadap lingkungan. Salah satunya dengan meluncurkan koleksi sustainable fashion yaitu produk yang ramah lingkungan.

Dari komitmen tersebut, pakaian ramah lingkungan kini sudah mulai merambah industri mode. Oleh karena itu, untuk menerapkan sustainable fashion maka ketika kamu berbelanja pakaian kamu perlu melihat label pakaian tersebut. Apabila ada logo sustainable atau organik, maka sudah dipastikan bahwa pakaian tersebut dijamin ramah lingkungan.

2. Pilih pakaian dengan material ramah lingkungan

Pict by. ecogeastore.com

Banyak material pakaian yang memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Contohnya, poliester, nilon, dan akrilik dibuat dari petrokimia yang dapat melepas serat mikro ke dalam air selama proses pencucian. Akhirnya menyebabkan air menjadi beracun dan harus dibuang.

Nah, untuk menyikapi ini, industri mode memiliki inovasi terbaru yaitu dengan memanfaatkan protein alami untuk membuat serat dan kain. Kemudian dari inovasi inilah tercipta material mylo dan microsilk.

Mylo diproduksi dengan memanfaatkan benang jamur yang dibuat menjadi kain seperti dari bahan kulit yang tahan lama. Proses produksinya pun cenderung cepat sehingga dampak buruk lingkungan berhasil dikurangi. Baik material mylo dan microsilk dibuat dari ragi dan sutra laba-laba yang ramah lingkungan.

3. Daur ulang pakaian yang sudah tidak dipakai

Pict by. idn.times

Ellen MacArthur Foundation menyebutkan bahwa konsumen di seluruh dunia membuang sekitar 460 miliar nilai pakaian setiap tahun dengan membuang pakaian. Padahal pakaian tersebut masih dapat dipakai, namun para konsumen membuangnya setelah tujuh hingga sepuluh kali pemakaian.

Jadi, daripada membuang pakaian, lebih baik kita mendaur ulang pakaian yang sudah tidak terpakai untuk mengurangi dampak buruk lingkungan. Kita bisa mendaur ulang kain baju yang sudah tidak terpakai dengan membuat sarung bantal atau gorden. Atau mungkin kita bisa membuat pakaian baru dari kain bekas pakaian yang sudah tidak terpakai. Hal tersebut merupakan salah satu penerapan sustainable fashion.

4. Donasikan pakaian yang tidak lagi dipakai

 

Pict by. sindonews.com

Untuk mengurangi banyaknya pembuangan pakaian maka banyak retail yang menawarkan program donasi pakaian. Kita dapat mendonasikan pakaian yang sudah tidak dipakai untuk dijual di toko bekas. Selain itu, pakaian yang tidak lagi dipakai ini kemudian akan digunakan kembali di berbagai negara untuk didaur ulang menjadi bahan baru.

Dengan mendonasikan pakaian bekas, biasanya retail akan memberikan imbalan untuk para donatur, seperti voucher hingga diskon pembelian. Dengan ini, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga dapat untung, bukan, Dears?

Dears, kira-kira begitulah cara menjaga lingkungan dengan sustainable fashion! Kita boleh tampil kece dan menarik dengan outfit terbaik, namun jangan lupa turut menjaga lingkungan, ya!

 

*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *