Sindrom “Queen Bee” pada Wanita, Benarkah Ada?

Wanita adalah mahluk multitasking yang perasa dibanding pria. Pada dunia karier, kebanyakan wanita menggunakan perasaannya dibanding pria yang lebih banyak memakai logika.

Bahkan dalam beberapa hal, wanita justru lebih kejam dibanding pria jika ada wanita lainnya yang dianggap mengancam posisinya di tempat kerja. Kondisi semacam ini dinamakan dengan sindrom “Queen Bee”.

Apakah sindrom “Queen Bee” Itu?

Queen Bee yang berarti “Ratu Lebah”, memiliki filososfi hanya boleh ada satu ratu lebah dalam satu sarang, tidak boleh ada ratu lainnya.

Penyebab wanita dengan sindrom ini adalah ia selalu ingin menjadi “The only one”, hanya satu-satunya yang berkuasa atau yang memiliki posisi tertentu. Jika ada wanita lain di bagian yang sama, dianggapnya sebagai saingan, bukan teman.

Wanita penderita sindrom ini tidak bisa menerima jika ada wanita lainnya yang menyita perhatian rekan kerja pria lain, juga sang atasan.

Berawal dari penelitian tahun 1973, psikolog Audrey Nelson melakukan penelitian tentang sindrom ini. Dalam penelitian ini dinyatakan bahwa wanita sebagai posisi kunci dalam organisasi tidak hanya gagal untuk mendukung wanita lainnya, tetapi secara aktif bekerja untuk mengusir mereka yang dianggap sebagai saingan.

Wanita dengan sindrom Queen Bee akan sekuat tenaga menolak wanita lainnya untuk mencapai kesetaraan karir sepertinya, cenderung menyakiti wanita lain yang dianggap pesaingnya sampai melukai hatinya. Ya, seolah terjadinya hukum rimba di tempat kerja, dan anehnya pada rekan kerja pria hal ini tidak berlaku.

Sindrom ini jika dibiarkan akan berbahaya terhadap kelangsungan hidup perusahaan, karena tidak ada dinamika positif lagi sesama pekerja wanitanya.

Tak hanya di tempat kerja, dalam keluarga pun sindrom ini bisa terjadi, seperti konflik dengan ibu mertua atau adik ipar wanita. Kembali ke filosofinya, hanya boleh ada satu ratu dalam satu komunitas.

Namun, dewasa ini sindrom ini tidak ada lagi. Sebuah survei di Columbia Business School, New York, menyatakan bahwa sindrom Queen Bee tidaklah ada, setelah sebelumnya dilakukan penelitian di 150 perusahaan.

Itulah sekilas penjelasan tentang sindrom Queen Bee. Ada tidaknya tergantung bagaimana kita dalam berpikir dan menganggap wanita lainnya sebagai rekan kerja atau justru sebagai pesaing.
Teruslah berpikir positif dan bekerjasama dengan baik ya, Dears!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *