Seren Taun, Perayaan Unik Masyarakat Sunda yang Mengandung Filosofi Mulia

Dears, Seren Taun adalah nama upacara adat masyarakat Sunda sebagai bukti rasa syukur pada Sang Pencipta atas hasil panen yang diterima selama satu tahun sebelumnya.

Beberapa daerah di Jawa Barat masih melestarikan adat ini, salah satunya adalah di desa Cigugur Kabupaten Kuningan.

Apa saja, sih, yang menarik dari upacara ini? Berikut 5 fakta yang ada dalam upacara Seren Taun di desa Cigugur:

1. Tradisi Menumbuk Padi

Inilah aktivitas utama dalam perayaan Seren Taun. Diawali dengan upacara menjemput padi pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan penumbukan padi. Semua tamu undangan saat itu dipersilakan menumbuk padi di sebuah rumah yang telah disediakan. Padi yang akan ditumbuk diletakan di dalam lesung.

Penumbukan dilakukan sambil mengelilingi ruangan sebanyak tujuh kali dan ritual ini biasanya dilakukan hingga menjelang magrib. Semua masyarakat yang mengikutinya berhak mencicipi makanan yang telah disediakan, dan padi yang sudah ditumbuk akan dibagikan kepada fakir miskin setempat. Wah, menarik, bukan? Ada unsur sedekahnya, Dears! Ternyata memang ada nilai yang diusung dalam ritual ini, yaitu kebersamaan, gotong royong, serta berbagi.

2. Dirayakan setiap Tanggal 22 Rayagung

Rayagung adalah bulan terakhir dalam kelender Sunda, Tanggal 22 dimaknai sebagai bilangan 20 dan 2, dimana padi yang ditumbuk saat acara Seren Tahun sebanyak 22 kuintal. 20 kuintal hasil tumbukan dibagikan pada masyarakat sekitar, terutama yang membutuhkan, lalu 2 kuintal sisanya dijadikan benih.

Selain itu, angka 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia. Sedang angka 2 mengacu pada dua sisi kehidupan, ada siang ada malam, ada suka duka, dan dua sisi lainnya yang selalu ada dalam kehidupan.

3. Diakui oleh Pemerintah sebagai Upacara Adat yang Harus Dilestarikan

Hal ini ditandai dengan selalu hadirnya para pejabat mulai dari tingkat propinsi hingga kabupaten pada setiap perayaan. Para pejabat ini bahkan didaulat untuk turun langsung dalam aktivitas utama, yakni menumbuk padi.

Perayaannya begitu ramai, Dears, banyak menyita perhatian wisatawan domestik dan luar negeri, sehingga acara ini diharapkan menjadi objek wisata tersendiri bagi daerah Kuningan.

4. Seren Taun Merupakan Refleksi Kepribadian Sunda

Upacara yang dilakukan di Pandopo ini pertama kali dirayakan oleh para penganut Sunda Wiwitan, yang ritualnya sempat mengundang pro dan kontra. Namun akhirnya perayaan ini kembali digelar karena pemerintah mengakuinya sebagai salah satu warisan budaya bangsa.

Perayaan ini dilakukan untuk menghormati Pwah Aci Sahyang Asri yang dipercaya telah memberi kesuburan pada tanaman yang ditanam para petani. Sosok tersebut dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai nenek moyang mereka, dimana dalam sejarahnya lebih dikenal dengan nama Dewi Sri. Kamu pernah dengar, kan, legenda nama ini sebagai Dewi Padi?

5. Upacara Adat yang Sarat dengan Seni, Pendidikan dan Pelestarian Budaya

Selain upacara yang bersifat sakral, perayaan ini dilengkapi dengan atraksi hiburan berupa penampilan kesenian tradisional. Sebagian penarinya adalah anak-anak usia Sekolah Dasar. Mereka menari tidak hanya untuk menghibur masyarakat, namun ikut andil dalam melestarikan budaya nenek moyangnya. Kesenian wayang dan Tari Buyung adalah beberapa pertunjukan yang digelar dalam acara ini.

Diharapkan ada unsur pengenalan sejarah dalam acara ini. Anak-anak dapat mencintai budaya lokalnya dan menjadi edukasi positif untuk para generasi penerus bangsa.

Itulah 5 fakta unik yang terkandung dalam perayaan Seren Taun di desa Cigugur, kabupaten Kuningan, Dears. Jadi kapan, nih, kamu berkunjung ke sana?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *