Separation Anxiety, Salah Satu Fase “Sulit” dalam Tumbuh Kembang Buah Hati

Pernah mendengar istilah separation anxiety, Dears? Ini merupakan hal yang biasa terjadi pada anak. Separation anxiety adalah kecemasan yang dirasakan oleh si kecil ketika harus berpisah dengan orang terdekat, khususnya ibu.

Fase ini terjadi saat buah hati berusia 6-8 bulan. Saat dimana bayi sudah menyadari akan keberadaan orang lain selain dirinya. Pada umumnya, fase ini akan hilang saat usia 18-24 bulan. Namun, dalam beberapa kasus, bisa terus berlangsung hingga anak bersekolah.

Penyebab Separation Anxiety

Kecemasan ditinggal pergi, yang melanda buah hati bisa disebabkan oleh faktor genetik, sikap orang tua yang over protective, atau karena eratnya bonding antara ibu dan anak.

Bila kamu atau pasangan adalah orang yang sering dilanda kecemasan, ini bisa menurun kepada buah hati. Hal ini lebih sering terjadi pada anak perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak laki-laki.

Gejala Separation Anxiety

Sumber pexels

 

Gejala separation anxiety antara lain, bayi sering terbangun bila beranjak dari sisinya, selalu rewel walau hanya ditinggal ke kamar mandi, atau tak mau melepaskan ibunya untuk beraktivitas di luar jangkauannya.

Ini pun bisa terjadi saat anak mulai bersekolah. Si kecil ingin ditunggui, tak mau ditinggal sendiri, serta menangis histeris. Bila ini terjadi lebih dari satu bulan, bisa dipastikan buah hati mengalami separation anxiety.

Cara Mengatasi Separation Anxiety

Sedang mengalami fase ini, Dears? Ada beberapa tahapan cara yang bisa dilakukan.

1. Tetap Tenang dan Sabar

Berusaha tenang karena fase ini menunjukkan bonding yang kuat antara kalian, Dears. Tak perlu panik dan emosional. Bersabarlah dalam menghadapi situasi dan si kecil.

2. Dampingi Mengenal Orang atau Lingkungan Baru

Sebelum benar-benar ditinggal, dampingi anak mengenal lingkungan atau orang baru di sekelilingnya. Proses ini bisa memakan waktu lama, jadi bersabarlah. Namun, bila buah hati sudah merasa nyaman, akan mudah meninggalkannya.

3. Lakukan Secara Bertahap dan Terbuka

Simulasikan saat buah hati akan ditinggal. Misalnya, bilang akan membuang sampah ke depan. Lakukan secara berkala dengan durasi waktu yang semakin ditambah. Lama kelamaan, si kecil akan terbiasa tanpa kehadiran kita. Apapun kondisinya, tetap berpamitan dan katakan kalau akan kembali lagi. Hindari pergi diam-diam karena akan membuat kecemasannya bertambah.

4. Ciptakan Momen Perpisahan yang Manis

Saat akan pergi, biasakan mencium, memeluk, atau mengucapkan salam. Buat si kecil nyaman dan yakinkan, bahwa dia tidak akan ditinggal dalam waktu lama.

Jangan kembali bila si kecil histeris saat ditinggal. Tetap pergi dengan tenang dan tidak menunjukkan emosi berlebihan. Pasti terasa berat, tapi ini demi kebaikannya. Bila kembali menghampirinya, anak akan menggunakan tangisan sebagai senjata dan takkan bisa mandiri.

5. Buat Janji dan Tepati

Sebelum pergi buatlah janji kapan akan kembali. Misalnya, berjanji akan kembali setelah waktu mandi sore. Usahakan untuk menepatinya. Hal ini akan membuat anak tetap tenang dan merasa tidak ditinggalkan. Dia akan belajar bahwa kamu harus pergi untuk sementara waktu dan kembali lagi bersamanya.

Separation anxiety bukan hal yang harus ditakuti. Namun, butuh kesabaran dan ketenangan dalam mengatasinya. Fase ini merupakan saat tepat untuk mengajarkan pada buah hati, bahwa ada waktu tertentu kita tidak bisa bersamanya. Nikmati saja prosesnya, karena masa seperti ini takkan lama, Dears.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *