Selalu Masuk Kategori Terbahagia, Negara Skandinavia Menerapkan Parenting Unik yang Menarik untuk di Kulik!

Skandinavia adalah semenanjung di utara Eropa, lima negara di wilayah ini, Finlandia, Denmark, Norwegia, Islandia dan Swedia. Dalam versi World Happiness Report, negara-negara ini selalu menduduki posisi 10 besar negara terbahagia, lo. Untuk kesekian kalinya, di 2019, Finlandia, memegang peringkat pertama Negara terbahagia di dunia.

Faktor apa saja yang dijadikan indikasi kebahagiaan, oleh WHP? Diantaranya, harapan hidup, dukungan sosial, tingkat korupsi, kebebasan memilih jalan hidup, hingga GDP per kapita. Rahasia negara-negara ini mencatatkan indeks kebahagiaan tinggi, salah satunya karena penerapan parenting yang unik. Bahkan parenting  negara utara Eropa ini merupakan yang terbaik. Bagaimana parenting unik ala mereka?

Bersahabat dengan Alam

Pict by, IDN Times

Anak-anak Skandinavia diajarkan untuk lebih mencintai alam dan hidup terbuka di alam bebas. Mereka diberi kebebasan lebih banyak bermain di alam dari pada hanya dikurung di dalam rumah. Kebiasaan ini disebut friluftsliv, yang menimbulkan rasa peduli dan menghargai alam tempat tinggal mereka.

Cuaca Bukan Halangan

Pict by. PULSK

Bagi orang Skandinavia, cuaca buruk bukan alasan untuk melarang anak-anak menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Namun, saat beraktivitas di alam bebas, anak harus dipakaikan baju yang tepat. Saat musim dingin, anak wajib  mengenakan pakaian tebal agar tidak kedinginan, saat musim hujan, anak-anak harus memakai jas hujan atau pakaian kedap air bila ingin bermain di luar. Jadi, tidak ada istilah cuaca yang jelek, hanya pakaian harus tepat.

Tidur Di Luar Ruangan

pexels.com

Tak hanya bermain, anak-anak Skandinavia sudah terbiasa tidur siang di alam terbuka. Bayi akan ditidurkan di stroller yang berada di teras rumah. Para orang tua menyakini, bahwa udara dan sinar matahari sangat baik untuk pertumbuhan anak. Jadi, bukan hal aneh, bila saat musim dingin sekalipun bayi berada di luar ruangan saat tidur siang.

Tak Takut Kotor dan Berantakan

Pict by. Child Care Aware

Masa anak-anak adalah masa bermain, dan mereka dibebaskan untuk bermain apa saja. Menjadi berantakan dan kotor adalah hal yang biasa. Menurut mereka, saat kotor ini, bakteri baik akan menguatkan sistem imunitas tubuh dan meningkatkan produksi hormone serotin, menyebab bahagia.

Tidak Terpaku Gender

Pict by. Mother and Baby Indonesia

Tak ada perbedaan permainan bagi anak laki-laki atau perempuan. Anak-anak boleh memilih semua permainan yang mereka inginkan tanpa membedakan gender. Bahkan orang tua juga tidak terlalu mempermasalahkan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. USG hanya dilakukan untuk mengetahui kesehatan janin yang dikandung, bukan untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Menarik bukan, Dears.

Anak Sekolah di Saat yang Tepat

Pict by. Babyologist

Sebelum usia 6 atau 7, anak Skandinavia tidak disekolahkan. Tidak ada penerapan sistem pembelajaran berhitung  dan membaca di usia dini. Anak-anak diberi kebebasan menikmati masa bermain tanpa dibebani untuk belajar berat.

Tak Ada Tugas Rumah

Pict by. Parentalk

Belajar hanya saat anak berada di sekolah saja. Setelah pulang, mereka tidak diberi tugas atau pekerjaan yang berkaitan dengan belajar lagi, Dears. Rumah adalah tempat untuk menikmati family time dan bermain. Jadi jangan pernah bertanya tentang PR kepada anak Skandinavia, karena mereka tidak mengenalnya.

Melarang Kekerasan Fisik

Angry
Sumber: pexels.com

Semua orang baik anak-anak maupun orang dewasa berhak mendapat perlindungan dari kekerasan. Swedia adalah Negara pertama yang melarang kekerasan fisik sejak 1979. Bila hidup di sana, mungkin kamu nggak akan menemukan berita tentang physical harassment.

Diajari Tanggung jawab dan Mandiri

Sejak kecil, anak diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Anak-anak dibolehkan bermain dengan benda tajam, memanjat pohon, dan berangkat sekolah sendiri. Cara ini dipakai untuk menanamkan karakter mandiri dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Pola pengasuhan yang sudah jarang diterapkan di negara kita, ya. Ternyata hal-hal sederhana yang ditanamkan sejak dini malah membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia. Sepertinya tidak ada salahnya ditiru, tapi tetap disesuaikan dengan kondisi dan budaya kita, ya, Dears.

 

Featured image: Photo on Unsplash
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *