Salam Perkenalan dari Allah

Sesungguhnya di dalam Alquran, Allah sebagai satu-satunya Tuhan penguasa alam semesta telah memperkenalkan diri-Nya melalui beberapa ayat. Salah satunya dalam surat ke-20 (Thaha), ayat 14.

Allah Swt berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

Pada ayat ini, Allah menyampaikan salam perkenalan kepada setiap makhluk-Nya, yang juga sekaligus menegaskan posisi-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Selain itu, Allah juga menerangkan bahwa setelah keimanan pada-Nya, ada konsekuensi kewajiban yang harus dilakukan, salah satunya adalah salat, sebagai cara untuk selalu mengingat-Nya.

Dengan ayat ini sebetulnya Allah Swt merangsang kita menggunakan akal total untuk berpikir. Logikanya adalah jika ada seseorang yang memperkenalkan diri kepada kita, lalu dia mengklaim mengenai kedudukannya, kemudian memerintahkan kita untuk berbuat sesuatu, tentu saja kita perlu menguji ucapannya. Paling tidak mempertanyakan, seperti apa kebenaran sesungguhnya?

Maka bagi kita sebagai makhluk, pertanyaan yang timbul dari terangsangnya nalar berpikir itu justru sangat baik, karena merupakan langkah awal untuk menapaki perjalanan demi mengenal diri-Nya.

Dears, untuk kamu ketahui, iman terbagi dalam beberapa tahap. Pertama, Ilmul Yaqin. Kedua, ‘Ainul Yaqin. Ketiga, Haqqul Yaqin.

Dalam istilah Imam al-Ghazaly, pertama adalah imannya orang awam, kedua adalah imannya para pemikir, dan yang ketiga merupakan imannya orang-orang yang telah mencapai derajat makrifat.

1. Ilmul Yaqin

Iman pada tahap pertama adalah meyakini berdasarkan informasi atau dalil yang kita ketahui. Baik itu bersumber dari Alquran, hadits, maupun kitab-kitab yang ditulis para ulama. Dalil itu disampaikan oleh orang-orang yang dipercaya, seperti orang tua, para guru, tokoh masyarakat, dan sebagainya, sehingga atas dasar kepercayaan itulah akhirnya kita pun memercayai apa yang disampaikannya. Bahkan, bagi sebagian besar manusia yang memang sudah terlahir dari keluarga muslim, keimanan itu mungkin hanya hasil dari doktrin yang ditanamkan sejak kecil.

2. ‘Ainul Yaqin

Pada tahap yang kedua, akal sehat mulai digunakan, karena menyadari bahwa dalil berupa kalimat tersurat itu perlu pembuktian. Banyak kalimat tersirat yang hanya bisa dipahami melalui proses penalaran logika. Di tahap ini kita mulai mempertanyakan dan mencari tahu jawabannya dengan mendayagunakan segala kemampuan dan perangkat berpikir yang ada.

Pada tahapan ‘Ainul Yaqin ini, karena sudah mengolah dan membuktikan dalil melalui proses berpikir, maka manusia menjadi lebih mudah dan senang dalam melakukan apapun yang disukai oleh-Nya. Manusia akan berusaha sekuat tenaga menghindari hal-hal yang tidak disukai-Nya, karena sadar bahwa hal itu membuat hatinya tidak tenteram.

3. Haqqul Yaqin

Dan sampailah pada tahap terakhir, yang tentu saja menjadi dambaan setiap manusia di muka bumi. Haqqul Yaqin merupakan suatu keadaan di mana manusia telah berada pada suatu kondisi keimanan, setelah melewati tahap informasi dan proses berpikir dengan totalitas akalnya. Akhirnya ia benar-benar mengimani keberadaan Allah karena sudah menemukan jawaban yang dicari melalui perjalanan batiniah dan pengalaman spiritual jiwa. Allah Swt telah menyingkap hijab yang membatasi-Nya dengan makhluk, sehingga di dalam jiwa selalu merasakan manisnya iman dalam setiap waktu dan keadaan. Inilah tahapan makrifat paling tinggi yang dirindu para pejalan kalbu.

Lalu, bagaimana agar kita bisa membalas perkenalan Allah itu, hingga tiba di tahapan yang paling didambakan manusian ini?

Tahapan Haqqul Yaqin adalah keadaan yang tidak bisa kita raih hanya karena kita menginginkannya. Tahap makrifat ini murni karunia Allah Swt pada hamba yang dipilih-Nya. Perjalanan batiniah dan pengalaman spiritual, bukanlah hal-hal yang bisa kita rancang dan rencanakan. Semuanya atas kemurahan Allah Sang Maha Pemberi.

Yang bisa terus kita upayakan adalah berusaha keras mencapai tingkatan ‘Ainul Yaqin. Maksimalkan totalitas akal kita dan giatkan amal ibadah. Teruslah berdoa dan tak putus berharap pada rahmat serta karunia-Nya. Suatu saat kita pasti tiba pada tahapan ketika Allah membuka tirai-Nya, membiarkan kita mengenal keberadaan-Nya, hingga kita benar-benar merasakan langsung manisnya madu iman.

Dalam Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari, dikatakan:

“Apabila Tuhan membukakan bagimu jalan untuk Makrifat, maka jangan hiraukan tentang amalmu yang masih sedikit, karena Allah Ta’ala tidak membukakan jalan tadi melainkan Dia berkehendak memperkenalkan diri-Nya pada kamu.”

Dears, pada titik ini, hakikatnya Allah tengah memeluk kita dengan penuh kelembutan, bahkan menyatakan cinta-Nya. Ini dimaksudkan agar kita mampu merasakan itu semua, sehingga dapat membalas kembali segala kelembutan dan cinta Allah tersebut.

Wallahu a’lamu bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *