Pro-Kontra Orang Tua yang Membatasi Anaknya Disentuh Orang Lain

Anak kecil terutama bayi yang baru lahir hingga usia balita memang menggemaskan. Tak puas hanya dilihat, kebanyakan orang justru kerap menyentuh, mencium hingga mencubit pipinya karena terlampau menggemaskan.

Sebagian besar orang ketika melihat bayi atau batita pasti ingin menyentuhnya. Selain karena menggemaskan seperti boneka dan wajah yang masih imut-imut, wangi khas bayi juga menjadi alasan ingin menempel dengan menyentuh atau menciumnya. Namun bagi beberapa orang tua sebenarnya tidak begitu suka jika anaknya disentuh-sentuh dan sering dicium oleh orang lain.

Meski tidak secara langsung terlontar, reaksi si orang tua ketika anaknya dibuat mainan seperti boneka dengan sering disentuh pasti akan meminggirkan bayinya. Tujuannya tentu saja agar tidak jadi disentuh atau bisa juga memasang ekspresi tidak suka. Bahkan ekstrimnya lagi, si anak langsung dibawa menjauh dari orang-orang yang ingin menyentuh anaknya tersebut. Jika di masyarakat, sikap orang tua yang seperti itu mungkin saja akan mendapat kritikan dari orang lain yang menganggap terlalu protektif dan tidak ingin anaknya bergaul dengan orang lain. Benar atau tidak Dears? Berikut alasan mengapa orang tua tidak suka jika anaknya di bawa keluar rumah.

Rumah lebih aman dibanding lingkungan luar

Pict by: Pixabay

Pernah nggak sih, memiliki saudara atau tetangga yang anaknya jarang atau bahkan tidak pernah diajak keluar rumah. Apalagi jika orang tuanya tenaga kesehatan, bisa-bisa anaknya diajak orang lain pun tidak rela karena takut mudah sakit dan tertular infeksi. Tidak salah memang bentuk pencegahan orang tua seperti itu, tapi tidak ada salahnya juga mengajak si kecil keluar rumah untuk mendapat sinar matahari serta mengenal saudara atau tetangganya. Tujuannya sih agar anak tidak mudah sakit karena lingkungan luar rumah beresiko menularkan penyakit. Tapi haruskah dengan cara mengasingkan anak di rumah terus?

Tangan orang dewasa beresiko menularkan penyakit

Pict by: Pixabay

Alasan utama bayi atau batita tidak dianjurkan sering menerima sentuhan dari orang dewasa karena banyaknya kuman yang terdapat di tangan orang tersebut. Entah tangan tersebut sebelumnya menyentuh apa dan lingkungan apa yang baru saja ia tinggalkan bisa berpotensi menularkan kepada si kecil yang hendak disentuhnya. Apalagi jika si kecil kerap menerima sentuhan di bagian pipi ataupun bagian wajah yang lain. Tentunya sangat rentan untuk terjadi alergi atau infeksi yang bisa menjadi penyakit serius di kemudian hari.

Organ tubuh anak belum berfungsi maksimal

Pict by: Pixabay

Organ tubuh bayi ataupun batita memang belumlah berfungsi sempurna layaknya orang dewasa. Alasan inilah yang membuat para orang tua kerap cemas ketika anaknya sering mendapat kontak fisik dengan orang dewasa. Terlebih sistem pernafasan dan kekebalan tubuhnya yang masih belum optimal menjadikan reaksi pertama anak muncul penyakit jika menerima kontak fisik dari tangan yang kurang bersih.

Sikap orang tua yang bijak

Pict by: Pixabay

Reaksi orang tua memang berbeda-beda, ada yang biasa saja jika anaknya banyak disentuh orang lain, namun ada juga tipe orang tua yang tidak boleh jika anaknya mendapat banyak sentuhan dari orang lain. Apalagi jika orang tersebut tidak ada hubungan kerabat. Tetapi, bagaimana sih sebaiknya sikap sebagai orang tua yang bijak?

Tentu, itu semua kembali lagi kepada masing-masing orang tua. Yang pasti, kepada siapapun yang hendak menyentuh si bayi bisa dikasih tahu terlebih dahulu untuk cuci tangan atau sudah menggunakan hand sanitizer. Bukan untuk dianggap higienis dan takut kotor, tapi kuman yang dibawa orang dewasa yang tidak berpotensi penyakit bagi dirinya justru sangat beresiko besar untuk si kecil mudah sakit.

So, jika anak kerap disentuh orang lain, bagaimana sebaiknya sikap kamu, Dears? khawatir pasti tetap ada terutama jika si kecil masih dalam usia penyesuaian baru lahir di mana fungsi organ tubuh belum berfungsi dengan optimal. Terlebih tubuh si kecil belum mampu membentuk antibodi yang cukup selama terpapar virus dari orang dewasa. Namun jangan sampai usaha memproteksi anak justru disalah artikan orang menganggap kita sebagai orang tua yang over protektif terhadap ke-higienisan anak ya, Dears.

 

Featured image: Photo on Pexels.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *