Phubbing, Tindakan Fokus pada Gawai dan Mengacuhkan Lawan Bicara di Dunia Nyata Ini Harus Kamu Hindari, Dears!

 

Hai, Dears

Apakah kamu pernah merasa diacuhkan seseorang saat berbicara karena dia lebih sibuk pada gadget-nya? Bagaimana rasanya? Pasti sebal, bukan? Yap, secara tidak sengaja kadang kita juga melakukan hal yang sama. Itulah tindakan yang dinamakan phubbing. Phubbing  meski terkesan sepele dan banyak orang melakukannya, namun jika terus dibiarkan tindakan ini bisa berakibat serius dalam hubungan sosial dan kesehatan mental kita, lho! Tindakan ini bahkan dikatakan sebagai sebuah penghinaan “nonverbal” dipandang dari sudut pemikiran orang barat.

Dears, saat phubbing dikatakan bisa berakibat serius dalam hubungan sosial dan kesehatan mental memang ada benarnya. Bagaimana tidak, kita ambil contoh saat kamu ngobrol dengan seseorang tapi lebih asyik pada gadget, misalnya. Meski saat itu kamu sekadar membaca berita online,  mengunggah status ataupun berkomunikasi lewat media sosial, tapi besar kemungkinan kamu akan mengacuhkan lawan bicara yang nyata di hadapanmu. Tindakan ini bisa membuat lawan bicaramu  merasa tidak dihargai atau dianggap tidak penting. Inilah yang bisa mengganggu kesehatan mental dan selanjutnya kamu dianggap tidak sopan, yang bisa berakibat negatif pada hubungan sosialmu juga.

Nah, jangan sampai masalah ini menghampirimu, ya! Sebaiknya kamu harus tahu apa dan bagaimana tindakan phubbing yang harus dihindari.

Asal Muasal Kata Phubbing

Istilah phubbing berasal dari kombinasi 2 kata: “phone” dan “snubbing.” Yang berarti tindakan melecehkan atau mengacuhkan seseorang dalam situasi sosial dengan melihat telepon daripada berkomunikasi secara nyata. Kata ini diciptakan pada tahun 2012 oleh tim pakar bahasa yang menyusun kamus atau Direktori McCann dan Macquarie. Istilah ini sebagai cara mereka membantu mengatasi masalah sosial di dunia yang sedang berkembang

Sejak tahun 2012 hingga sekarang, media sosial di Amerika Serikat terus aktif mensosialisasikan gerakan anti-phubbing. Dan di awal 2015 kampanye tersebut sudah dirasakan di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Beberapa Perilaku yang  Termasuk Phubbing

Meski dianggap biasa, namun ternyata beberapa perilaku berikut termasuk phubbing, lho, Dears! Perilaku tersebut antara lain:

–          Melakukan dua percakapan secara langsung lewat media sosial dan juga berbicara dengan orang di hadapan kamu.

–          Melirik gadget pada saat  percakapan.

–          Memeriksa telepon  ketika percakapan terhenti.

–          Menjaga ponsel kamu hanya untuk “berjaga-jaga” jika ada pesan yang masuk.

–          Mengganggu percakapan untuk menjawab pesan atau telepon Anda.

Tips Mengurangi Phubbing

 Untuk menghindari phubbing awalnya mungkin berat. Namun ketika ada niat tulus, pasti usaha kamu memunculkan hasil. Selain itu kamu juga bisa menikmati kebebasan tanpa gadget. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kamu coba!

  • Mengatur Waktu Bebas Gawai

Aturlah  waktu atau peristiwa di mana semua orang dalam keluargamu meninggalkan gawai (gadget) mereka. Bisa diatur pada saat waktu makan, selama acara favorit, sebelum sekolah, atau jam terakhir sebelum tidur. Sedikit ruang dan waktu tanpa gawai akan mempererat hubungan dan memperbaiki komunikasi.

  • Buatlah Zona Bebas Gawai

Tinggalkan gawai  atau ponsel kamu di ruangan yang berbeda sehingga kamu tidak tergoda untuk menelusuri berita di media sosial. Cobalah berbincang secara tulus dengan orang yang ada di hadapanmu.

  • Nonaktifkan Pemberitahuan yang Tidak Penting

Kamu tidak perlu tahu secara cepat kalau seseorang menyukai salah satu postingan Facebook-mu atau mengirim pesan langsung di Instagram, kan? Nah, cara menonaktifkan pemberitahuan ini bisa kamu mulai.

Bagaimana, Dears, kamu mau mencoba? Sejatinya ada banyak waktu dan kesempatan yang bisa digunakan untuk hal yang lebih berharga. Komunikasi secara tulus dengan orang yang ada di hadapan kita dan mengesampingkan kesenangan berselancar di dunia maya pastinya bisa menjadikan hubungan personal serta kesehatan mental kita jadi lebih baik. Setuju, Dears?

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *