Mudahnya Lisan untuk Bergosip Dibanding Menutupi Keburukan Saudara Sendiri

Wanita itu paling sulit menjaga lisannya, sedangkan laki-laki paling sulit menjaga pandangannya. Begitulah yang umumnya kita temui di masyarakat dan memang benar adanya.

Bergosip atau berbincang ria saat ada perkumpulan sesama perempuan sudah menjadi kebiasaan yang tak bisa dihindarkan. Selalu saja mudah mencari topik pembicaraan yang sangkut paut, awalnya hanya berbicara mengenai pekerjaan eh tiba-tiba merambat ke topik tetangga hingga orang yang jauh tempat tinggalnya dengan si penggosip tersebut.

Ngobrol dan bercengkerama memang menyenangkan, bisa berbagi cerita kepada orang lain. Tetapi, harus tahu batasan. Tidak semua yang diketahui harus diumbar sana-sini, apalagi jika yang diumbar aib orang lain. Selagi mengumbar cerita mengenai kehidupan rumah tangga kepada tetangga atau bahkan saudara saja tidak dianjurkan, kok bisa-bisanya lisan lebih mudah mengumbar keburukan orang lain.

Padahal orang lain pun teramasuk saudara ‘kan, Dears karena sesama muslim itu saudara. So, ketika membicarakan orang lain sama saja seperti bergosip kepada saudara sendiri. Terlebih saat pandemi Covid-19 yang masih terus bertambah kasusnya di berbagai daerah. Kemungkinan untuk menyebarkan aib semakin bertambah. Misalnya jika si korban pernah melakukan rapid tes dan dinyatakan reaktif. Semakin besar pula kemungkinan banyak orang yang akan mengumbar aibnya kepada orang lain. Nah, meski menjadi topik pembicaraan orang lain itu tidak mengenakkan, tapi kamu juga sebaiknya berterimakasih terhadap orang yang menggosipkan kamu loh, berikut alasannya.

Orang yang digosipkan, berarti dia lebih baik

Pict by Pixabay

Positive thinking saja ketika ada yang membicarakan tentangmu artinya kamu memiliki something yang tidak dimiliki oleh orang lain ataupun kamu lebih baik dari mereka. Hanya saja sifat sebagai manusia tentu saja akan merasa tidak nyaman ketika dibicarakan oleh orang lain, apalagi jika yang dibicarakan itu perihal keburukan diri kita. Mungkin saja ada yang akan membalas dengan membicarakan keburukan orang yang menggosipkan kita, tapi jika kamu juga melakukan hal seperti itu, lantas apa bedanya kamu dengan mereka.

Balas mereka dengan kebaikanmu

Pict by Pixabay

Justru yang seharusnya dilakukan kepada orang yang pernah membicarakan keburukan kita dengan bersikap wajar selayaknya tidak pernah mendengar perkataan buruk mereka. Sulit memang untuk bisa berlaku seperti itu, apalagi jika tetap berusaha bersikap baik dan ramah. Tapi itulah yang sebaiknya dilakukan, agar orang tersebut malu akan dirinya sendiri yang sudah berburuk sangka dengan menyebar gosip namun tetap diperlakukan baik olehmu. Apa kamu bisa seperti itu, Dears?

Belajar sabar dan ikhlas

Pict by Pixabay

Tiap orang pasti berpotensi untuk dibicarakan oleh orang lain. Kita memang tidak bisa membungkam mulut orang lain, tapi masih memiliki tangan untuk menutup telinga kita sendiri. Oleh karenanya dengan tidak menanggapi, kita belajar untuk bersikap sabar dan ikhlas dengan apapun yang dibicarakan orang lain mengenai aib kita. Malah jika mampu berpikir positif, orang yang membicarakan aib kita memang ditakdirkan sebagai perantara agar kita semua menjauhi perbuatan buruk yang mereka gosipkan.

Belajar untuk tidak meniru

Pict by Pixabay

Jika diri sendiri tidak suka ketika dijadikan bahan gosip, maka seharusnya diri kita pun jangan pernah meniru untuk membicarakan aib atau keburukan orang yang sudah berbuat kurang enak terhadap kita. Sulit memang, tapi biarkan orang tersebut malu dengan sendirinya akibat perbuatannya sendiri. Justru akan lebih baik jika mendoakan untuk orang tersebut agar menjadi orang yang lebih baik dan mendapat hidayah.

Nah itulah keuntungan yang tidak kita sadari ketika ada orang lain yang membicarakan aib kita. Dibanding menutup keburukan sendiri, mereka justru lebih suka memperlihatkan aib orang lain. Padahal dengan perbuatannya itu, akan memunculkan mindset buruk orang lain terhadapnya karena sangat mudah dan lihai dalam bersilat lidah di depan orang banyak.

 

Featured image: Photo on Pexels.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *