Menyikapi Fenomena Warung Berkaki saat Bulan Ramadan, Salah Siapa?

Bulan Ramadan sudah terlewati separuhnya, yang artinya, kita sudah melewati keistimewaan Ramadan 10 hari pertama, yaitu datangnya Rahmat bagi seluruh umatnya yang menjalankan ibadah puasa.

Lalu, bagaimana untuk orang yang tidak berpuasa? Apa juga akan mendapatkan rahmat dan kenikmatan selama bulan Ramadan ini? Wallahu’alam. Hanya Allah yang lebih tahu untuk siapa rahmat-Nya diberikan.

Bulan Ramadan adalah waktu di mana kita diwajibkan menahan lapar dan haus, serta nafsu. Meskipun begitu, masih banyak yang secara terang-terangan makan dan minum di bulan puasa ini. Nah, lalu bagaimana menyikapi fenomena yang banyak terjadi di sekitar kita tentang “warung berkaki” ini, Dears? Siapa yang seharusnya disalahkan pada fenomena seperti itu? simak ulasannya berikut, yuk!

Tergantung Niat Seseorang

Menjalankan kewajiban berpuasa tentu ada niatnya. Nah, niat itulah yang meneguhkan seseorang dalam menjalankan kewajibannya tersebut. Jika sudah mantap menjalankannya, sebanyak apapun godaannya tidak akan berpengaruh.

Berbeda halnya jika melakukannya hanya sebatas formalitas kewajiban sebagai umat muslim, maka ketika ada godaan seperti warung berkaki akan merasa kesal dan menghujat si penjual. Bahkan, bukan hanya menghujat si penjual, justru ikut terlena untuk membeli makanan yang dijual.

Tujuan Penjual Tetap Buka Meski Berpuasa

Berjualan makanan selama bulan puasa tetap diperbolehkan, akan tetapi umumnya saat sore hari menjelang waktu berbuka. Namun, berjualan ketika siang hari bagi sebagian orang terlihat aneh. Apalagi jika mengunjunginya seperti hari-hari biasa di luar bulan puasa. Berjualan atau tidaknya seseorang tergantung pada tujuannya. Ada yang ingin mendapatkan keuntungan karena sedikit warung yang buka, atau untuk menyediakan makanan bagi orang-orang yang tidak melakukan puasa. Bagaimanapun alasannya, bukankah itu seperti tindakan yang tidak menghargai orang berpuasa?

Tidak Ada Aturan Khusus yang Melarang Pedagang

Memang, tidak ada aturan khusus yang mengatur tentang waktu berjualan ketika bulan puasa, namun menghormati orang lain sebagai umat muslim yang melakukan ibadah puasa tentunya lebih baik. Meskipun begitu, orang yang menjalankan ibadah puasa pun tidak berhak melarang atau menutup paksa warung-warung berkaki yang selalu ada selama bulan puasa.

Yap! Itulah yang harus kita pahami mengenai fenomena warung berkaki selama bulan puasa ini. Jika hati dan keyakinan sudah mantap dalam beribadah hanya berharap mendapat pahala, maka gangguan dan godaan semacam itu tidak akan berpengaruh, Dears. Meskipun kita yang menjalankan puasa merasa terganggu dengan kondisi tersebut, tidak sepatutnya mengemis untuk minta dihormati ketika berpuasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *