Mengenal Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah, Sebab Dibalik Turunnya Surat An Nisa Ayat 128

Dears, sudahkah kita mengenal Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha, salah satu istri Rasulullah yang menjadi sebab dibalik turunnya surat An Nisa ayat 128?

Rasulullah SAW pada masa hidupnya memiliki beberapa istri. Beliau memilih wanita yang hendak dinikahi bukanlah karena mengikuti hawa nafsu, melainkan ada maksud dan tujuan, bahkan syiar, yang hendak disampaikan. Dan pastinya, para ummul mukminin tersebut memiliki keistimewaannya masing-masing.

Seperti apa sebenarnya sejarah hidup dan kepribadian Ummul Mukminin Saudah binti Zam’ah radhiyallahu’anha?

  • Seorang Janda Tua dan Tidak Cantik

Saudah sebelumnya pernah menikah dengan seorang muslim dari Bani Amir, yaitu Al Sukran. Mereka bersama rombongan umat Islam yang lain, pergi dari kampung halamannya untuk mengungsi ke Abissinia demi menghindari kekejaman kafir Quraisy yang semakin menjadi-jadi. Di tempat itulah Al Sukran jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Saudah pun kembali ke kampung halamannya di kota Makkah.

Sebagian riwayat mengatakan, usia Saudah 55 tahun saat dinikahi oleh Rasulullah. Perawakannya tinggi besar dan wajahnya tidak tergolong cantik. Wajar jika kebanyakan orang merasa kaget mendengar kabar Rasulullah akan menikahinya.

  •  Bermimpi Kejatuhan Bulan

Sebelum kepergian suaminya, Saudah pernah bermimpi dipeluk lehernya oleh Rasulullah. Ia pun menceritakan hal itu pada sang suami, yang kemudian dijawab, “Jika mimpimu itu benar, maka aku akan mati dan engkau akan dinikahi Rasulullah”

Pada suatu malam, Saudah lagi-lagi bermimpi. Kali ini ia melihat bulan menjatuhi dirinya. Kembali ia menceritakan mimpi itu pada suaminya dan dijawab dengan kalimat yang sama oleh sang suami.

  • Wanita Pertama yang Dinikahi Rasulullah Setelah Kematian Khadijah

Setelah kematian istri yang paling dicintai Rasul, yaitu Khadijah binti Khuwailid, wanita yang pertama kali menjadi pilihan untuk dinikahi Rasulullah adalah Siti Aisyah binti Abu Bakar. Namun karena beliau masih kecil, maka Rasul hanya melamar dan menikahinya kelak ketika sudah cukup umur.

Lalu para sahabat mengusulkan janda Al Sukran, yaitu Saudah, untuk dinikahi Rasulullah. Beliau pun menyetujuinya. Ketika kabar itu disampaikan, betapa terkejut dan bahagianya Saudah karena dipilih untuk menikah dengan manusia mulia yang sangat dicintainya.

  • Ingin Dibangkitkan sebagai Istri Rasulullah

Sebagai manusia biasa, Rasulullah tidak bisa mengatur hati dan cintanya kepada istri-istrinya. Meskipun Saudah merupakan istri yang sangat berbakti dan Rasulullah telah memenuhi hak-hak Saudah sebagai istri, tapi beliau merasa bersalah karena tidak dapat memberikan sepenuh hati cinta dan perasaannya. Maka beliau Rasulullah pun menyampaikan maksudnya untuk menceraikan Saudah dengan cara yang baik.

Betapa hancurnya hati Saudah mendengar perkataan Rasul. Sedih dan duka tak pelak lagi menguasai hatinya, hingga akhirnya ia memohon kepada Rasul.
“Wahai Rasulullah, janganlah engkau menceraikanku, bukanlah aku masih menghendaki laki-laki, tetapi karena aku ingin kelak dibangkitkan dalam keadaan menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku berikan hari giliranku kepada Aisyah.”

  • Allah SWT Menurunkan Surat An Nisa Ayat 128

Allah yang Maha Pengasih tahu betul kesedihan hati Saudah. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan surat An Nisa ayat 128 sebagai jawaban atas perkara tersebut.

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. An Nisa : 128)

Menyadari keutamaan Saudah tersebut, maka Rasulullah pun batal menceraikannya. Begitulah, akhirnya Saudah tetap menjadi Ummul Mukmin sampai akhir hayatnya.

Bahkan setelah kematian Rasulullah, Saudah tidak pernah lagi naik haji. Ia berpegang pada perkataan Rasul kepada istri-istrinya pada saat haji wada’,

“Ini adalah saat haji bagi kalian, kemudian setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian.”

Ummul Mukmin Saudah tetap berada di rumah dan menjaga kehormatannya sampai ia wafat dan jenazahnya dibawa keluar dari rumahnya.

Semoga kita semua para muslimah bisa meneladani segala sifat baik beliau. Aamiin …

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *