Mempersiapkan Kemungkinan menjadi Orang Tua Tunggal bagi Seorang Ibu, Haruskah?

Kehidupan sempurna bagi seorang manusia adalah sebuah keinginan semua orang. Membentuk keluarga bersama pasangan hingga akhir hayat menjadi cita-cita semua orang, Dears. Namun, kadang kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Pasangan yang kita harapkan menjadi suami dan ayah bagi anak-anak kita, ternyata harus meninggalkan kita, entah karena meninggal atau terpaksa bercerai karena sesuatu hal. Pada akhirnya, seorang ibu harus menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya.

Jika anak-anak sudah dewasa mungkin tidak menjadi masalah, tetapi apabila anak-anak masih kecil atau remaja, menjadi orang tua tunggal memerlukan banyak persiapan, bahkan sejak saat ini. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan, Dears!

1. Sendiri adalah Keniscayaan

Berdua dengan pasangan dalam setiap kesempatan memang membahagiakan ya, meskipun kadang-kadang ada perbedaan pendapat atau sedikit perselisihan sebagai bumbu kehidupan berkeluarga. Namun, harus kita sadari bahwa suatu saat kita akan sendiri. Ketika umur sudah sampai waktunya dan Allah mengambil haknya atas umur manusia, kita harus siap ditinggalkan oleh pasangan. Kita harus siap hidup sendiri tanpa pasangan, tanpa teman berbagi dalam membina rumah tangga dan pengasuhan anak. Sehingga mulai saat ini, persiapkan hati untuk sendiri, meski tidak tahu kapan tiba waktunya, sehingga pada saatnya, kita tidak jatuh terpuruk dalam kesepian dan kehampaan karena masih harus berjuang demi anak-anak.

2. Selalu Belajar Berperan Ganda

Seorang ibu memiliki sifat kelembutan dan kasih sayang yang tidak dapat disamakan dengan bentuk kasih sayang seorang ayah. Pola asuh seorang ibu pun berbeda dengan pola asuh seorang ayah, meskipun masih dalam visi yang sama. Tidak ada salahnya mulai sekarang seorang ibu belajar bagaimana sang ayah mengasuh anak-anak, kasih sayang yang sempurna, namun penuh ketegasan.

3. Hindari Ketergantungan pada Suami

Jika kamu selalu bergantung pada suami untuk semua hal, mulai saat ini sebaiknya mulai belajar mandiri ya, Dears. Ada saatnya kita berbagi pekerjaan dengan suami, baik dalam pengelolaan rumah tangga maupun pengasuhan anak, namun dalam beberapa hal kita juga harus mandiri dan melakukan sesuatu tanpa bantuan suami. Misalnya, mengendarai kendaraan motor atau mobil. Jika kita memilikinya, kenapa tidak mencoba untuk belajar mengoperasikannya? Demikian juga untuk hal-hal kecil lainnya.

4. Mandiri Secara Ekonomi

Saat ini banyak ibu yang meskipun menjadi ibu rumah tangga tapi masih mampu berbisnis dari rumah, baik secara nyata atau di dunia maya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seorang ibu sebenarnya mampu mandiri secara ekonomi. Jika saat ini pekerjaan sambilan ini dilakukan setengah-setengah atau sambil lalu, sudah saatnya kamu lebih serius. Berbagai metode bisnis dapat diakses dari rumah sehingga bisnis yang ditekuni dapat memberikan hasil terbaik. Jika suami memiliki penghasilan lebih dari cukup, maka penghasilan istri dapat diinvestasikan untuk masa depan, sehingga ketika harus menjadi orang tua tunggal, keluarga dapat tetap bertahan hidup.

5. Menabung dan Investasi Masa Depan

Arus kas rumah tangga sering menjadi tanggung jawab seorang ibu, sehingga sebagian besar penghasilan dalam rumah tangga harus ditangani dengan sebaik-baiknya. Kebiasaan berhemat dan menabung harus dimulai saat ini. Alih-alih membeli barang yang tidak berharga, belilah emas meski beratnya beberapa gram saja. Secara berkala, tambahlah jumlah simpanan emas yang kita miliki. Jika memungkinkan, berinvestasilah dengan properti dengan membeli sawah, kebun atau rumah. Setidaknya, sawah, kebun atau rumah dapat disewakan untuk jangka panjangnya. Tentu saja persiapan ini harus dibicarakan dengan suami, sehingga di masa depan minimal kita memiliki tabungan dan investasi sebagai penopang ekonomi rumah tangga.

6. Persiapkan Anak menjadi Tangguh

Mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua tunggal sangat berat bagi seorang ibu, namun bagi anak-anak yang harus kehilangan seorang ayah akan terasa lebih menyakitkan, sehingga tak ada salahnya mempersiapkan anak-anak untuk menjadi anak-anak yang tangguh sejak saat ini. Ajarkan kedisiplinan, kemandirian dan menjadi anak yang visioner, sehingga ketika tiba saatnya, kehilangan seorang ayah tidak akan menjadi penghalang baginya untuk tetap maju mengarungi kehidupan.

7. Silaturahmi Menenangkan

Menikah dengan pasangan berarti siap menerima keadaan seluruh anggota keluarganya, orang tua, saudara-saudara dan seluruh kerabatnya. Artinya, keluarga besar suami adalah keluarga besar kita juga. Pada saatnya, keluarga besar suami akan menjadi penopang kehidupan keluarga kita di masa depan bersama anak-anak.

Beberapa suku di Indonesia mempunyai tradisi yang cukup melegakan, dimana keluarga besar suami akan menopang perekonomian keluarga yang ditinggalkan. Namun jangan berkecil hati, meski tidak dibantu secara materil, support keluarga besar suami cukup membuat kita bersemangat untuk bangkit dari keterpurukan.

8. Membuka Hati untuk Orang Lain

Ditinggalkan suami karena sesuatu hal bukan berarti kita tidak boleh membuka hati untuk orang lain. Takdir kadang membawa seseorang pada kenyataan harus memiliki lebih dari satu orang suami dalam hidupnya, bahkan memiliki anak-anak dari suami yang berbeda. Jika memang situasi kondisi memungkinkan untuk menikah lagi dan membawa kebaikan bagi kita dan anak-anak, maka tak ada salahnya menikah lagi. Siapa tahu rezeki anak-anak kita dititipkan pada suami yang datang kemudian.

Dears, hidup memang penuh dengan segala kemungkinan, jadi mari kita persiapkan semuanya dari sekarang. Jika ada saat di mana kita ditinggalkan, maka kita harus siap menghadapinya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *