Memiliki Saingan atau Usaha yang Kurang Maksimal? Kamu Tipe yang Mana, Dears

Pernah nggak sih, ada perasaan iri ataupun sekadar kurang suka ketika melihat orang yang sepantaran usianya dengan kita tetapi dia lebih dahulu sukses dan mampu mendapatkan apapun yang mereka inginkan?

Entah kenapa selalu ada rasa cemas dan kurang suka ketika orang lain mendapatkan apapun yang mereka inginkan dengan mudah. Sedangkan diri sendiri masih “gini-gini” aja tidak seperti orang tersebut. Memang bedanya apa, toh dia sepantaran denganku tapi kok dia lebih mudah dan cepat ya untuk mendapatkan itu semua. Pernah nggak sih terbersit pikiran seperti itu?

Wajar kok, karena pada kenyataannya kita selalu menjadikan orang lain sebagai kiblat dan selalu silau akan pencapaian orang lain. Selalu menganggap bahwa rasanya dunia tidak adil untuk orang yang belum berhasil, belum sukses dan masih biasa-biasa saja hidupnya. Tapi, benarkah jika dunia memang tidak adil bagi orang-orang yang belum sukses seperti yang mereka inginkan. Eits, sebelum semakin berprasangka buruk terhadap keadaan, jangan-jangan ada yang salah dengan diri kita sendiri nih, Dears.

Selalu menunda dan santai

Pict by Pixabay

Tidak perlu iri atau merasa tidak suka saat orang lain sudah berada di puncak sedangkan diri sendiri masih di bawah. Mungkin saja memang dari awal kita sendiri yang sudah salah. Saat masih muda di usia produktif, saat waktu yang dimiliki lebih banyak dan tenaga yang masih kuat justru tubuh dan pikiran enggan untuk diajak bekerja. Berbeda dengan orang yang selalu gercep dan tidak kenal kata santai dan menunda, di waktu yang mereka rencanakan sudah berhasil dan mampu mendapatkan apa yang telah diusakan selama masih muda.

Terkadang pertemanan lah yang paling berpengaruh saat rasa malas, santai dan suka menunda sudah dijadikan kebiasaan. Lebih suka saat diajak teman nongkrong tidak jelas dan membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan semaksimal mungkin. Jadi, tidak perlu disesali jika memang saat ada kesempatan dan peluang untuk berusaha tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

Kurangnya dukungan dari orang terdekat

Pict by Pixabay

Keberhasilan tidak serta merta bergantung dari diri sendiri saja. Orang terdekat juga menjadi penyumbang baik itu keberhasilan ataupun malah ketidak beruntungan seseorang. Karena orang terdekat mampu menjadi support system yang paling dibutuhkan ketika diri sendiri lagi down dan kurang semangat. Namun, berbeda jika keluarga atau orang terdekat yang dimiliki merasa acuh dan tidak peduli dengan kehidupanmu karena sudah dianggap dewasa. Hanya penyesalan yang akan tersisa dan rasa iri yang selalu menyelimuti ketika teman seusia sudah menjadi wirausaha ataupun sudah bekerja di berbagai tempat bergengsi. Sedangkan orang terdekat malah semakin mengompori atau membandingkan dengan keberhasilan orang lain.

Usaha yang kurang maksimal dan mudah mengeluh

Pict by WinNetNews.com

Sebelum ada rasa iri saat melihat hidup orang lain terlihat lebih beruntung, coba deh refleksi dengan diri sendiri dulu. Apa memang usaha dan kerja keras selama ini sudah sebanding dengan hasil yang ingin didapat. Orang lain yang dianggap hidupnya tanpa masalah dan tekanan nyatanya juga mengalami hal yang sama, hanya saja tidak diperlihatkan dan menjadi beban baginya. Sehingga ia mampu bertahan dan tidak mudah mengeluh.

So, tidak ada yang namanya saingan, yang ada hanya mindset kita sendiri membentuk istilah saingan itu dan menjadikan tertekan karena merasa belum berhasil, sukses ataupun hidupnya tidak seberuntung seperti orang lain. Semua orang jika ingin sukses, selain karena privilege tertentu juga pasti dipengaruhi ketekunan dan keuletan yang menjadi makanan sehari-harinya.

 

Featured image: Photo on Pexels.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *