Membentuk Anak yang Tangguh, Ajarkan 6 Hal Ini Sejak Usia Dini, Dears!

Dears, meninggalkan generasi terbaik adalah cita-cita Rasulullah Saw dan cita-cita setiap muslim saat ini. Setiap orang tua selalu berusaha agar anak-anaknya menjadi generasi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi perkembangan dunia di masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diajarkan agama. Dan proses pembentukan generasi tangguh tidak mudah karena harus dimulai sejak anak usia dini hingga saatnya orang tua meninggal.

Bagaimana membentuk generasi yang tangguh ini sebenarnya dapat dimulai dari mengajarkan beberapa hal berikut ini, Dears!

  1. Takwa

Manusia diciptakan agar beribadah kepada Allah Swt Hal ini yang harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Proses keimanan harus diajarkan terlebih dahulu, baru kemudian diajarkan hal-hal teknis peribadatannya. Karena semua ibadah tanpa dilandasi iman sesungguhnya tidak ada artinya. Anak-anak di masa depan dipastikan akan menghadapi banyak tantangan. Keimanan dan ketakwaannya yang akan menjadikannya bertahan menghadapi semua tantangan.

 

  1. Disiplin

Percayakah kamu bahwa disiplin harus diajarkan sejak kecil? Ibarat belajar naik sepeda, ketika kita belajar dari kecil dan setiap hari melakukannya, maka kita tidak akan lupa cara naik sepeda. Disiplin pun demikian, ketika dari kecil terbiasa disiplin maka hingga dewasa kita cenderung untuk terus disiplin. Ketika semua terjadwal kemudian kita melupakan salah satu hal saja, rasanya ada sesuatu yang mengganjal.

Ajarkan anak mulai mencatat kegiatan hariannya dan ajarkan untuk mulai disiplin mengelola waktunya. Pastikan tidak ada hal yang terlewat tanpa alasan yang kuat.

 

  1. Mandiri

Dears, masih suka memanjakan anak dengan melakukan semua hal yang seharusnya bisa dia lakukan sendiri? Mengambilkan baju, menyiapkan sepatu, menata buku sesuai jadwal, hingga membawakan tas ke dalam kendaraan, atau bahkan sampai ke bangkunya? Maka bersiap-siaplah kamu akan melakukannya terus hingga anak beranjak dewasa. Anak yang terbiasa dimanjakan dengan segala fasilitas, dengan segala kemudahan, akan menjadi anak-anak yang punya angka ketergantungan tinggi terhadap orang tua atau orang dewasa lainnya.

Anak harus diajarkan untuk melakukan kegiatan sesuai perkembangan usianya sehingga memiliki otonomi sendiri. Anak yang diajarkan untuk menyiapkan keperluannya sendiri akan memiliki rasa percaya diri tinggi karena merasa sejajar dengan orang dewasa.

 

  1. Optimis

Anak yang terbiasa menjadi anak yang apa adanya, tanpa usaha menjadi lebih baik akan menjadi anak-anak yang memiliki daya juang sangat rendah. Dalam pikirannya, tak perlu berjuang lebih keras karena keadaan saat ini saja sudah cukup baginya. Pada saatnya akan tumbuh sifat cuek, masa bodoh, tidak peduli dengan apapun, dan menjadi anak-anak yang pesimis.

Optimisme harus selalu ditumbuhkan sejak kecil. Katakan kepadanya bahwa kehidupannya di masa mendatang harus lebih baik dari saat ini. Ada tujuan yang akan membuatnya menjadi manusia yang lebih beruntung apabila terus berusaha menjadi lebih baik, karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

 

  1. Mudah Bergaul

Anak-anak sibuk dengan gadgetDears? Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut, ya, karena anak membutuhkan waktu untuk bersosialisasi, berkomunikasi dan menemukan solusi. Anak yang suka bermain dengan anak-anak sebayanya akan menjadi anak yang mudah bergaul, mudah memahami dan berempati terhadap orang lain. Di masa depan, anak yang mudah bergaul ini akan menjadi anak-anak tangguh dan tidak mudah menyerah karena merasa memiliki banyak teman yang memberikan dukungan dan empati kepadanya.

 

  1. Visioner

Zaman memang sudah berubah saat ini. Ketika semua kebutuhan terasa sulit untuk didapat, orang tua sering mengajarkan kepada anak-anak untuk bertahan hidup “saat ini” saja. Orang tua secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk tidak memikirkan masa depan. Akan seperti apa dan bagaimana mereka di masa depan. Berkeluh kesah kepada anak mengenai kesulitan keuangan, rumah tangga, atau aspek kehidupan lainnya membuat anak merasa bahwa mereka tidak punya masa depan cerah.

Alih-alih melakukan hal tersebut, Dears, ajarkan anak untuk berandai-andai mengenai masa depannya. Apa cita-citanya, langkah apa yang harus dilakukan untuk mewujudkannya dan bagaimana mengatasi rintangan yang mungkin dihadapinya. Tentu saja harus disampaikan dengan bahasa yang sesuai dengan umurnya. Dengan demikian, anak-anak akan belajar berpikir tentang masa depannya.

Nah, Dears, mengajarkan anak belajar tangguh sejak usia dini akan membuat anak menjadi tangguh di masa depan. Ajarkan hal-hal positif kepadanya agar kita tidak meninggalkan generasi yang loyo dan tidak memiliki daya juang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *