Lika-liku Mahasiswa Tingkat Akhir, Tiap Orang Punya Kadar Kesulitan Masing-masing

Dears, kamu masih kuliah atau sudah lulus? Semester baru memang belum dimulai, namun untuk mahasiswa tingkat akhir sudah mulai resah perihal tugas akhir yang akan dijalani selama satu tahun ke depan, atau bahkan kurang dari itu.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, skripsi atau tugas akhir memiliki segudang cerita yang menarik untuk dibahas dan diceritakan ketika sudah memulainya. Ada kesan tersendiri yang menarik untuk dibagikan. Meski tak semua kesan itu menyenangkan, tetap saja ada kesan yang membuat orang yang menjalaninya tahu akan suatu hal yang belum pernah diketahui selama duduk di bangku perkuliahan.

Skripsi atau tugas akhir, bagi tiap mahasiswa sudah pasti memiliki proporsinya masing-masing. Jangan pernah membandingkan, “Penelitian si A lebih mudah dikerjakan dibanding penelitian saya”, “Dosen si B enak mudah ditemui, kalo dospemku sih susah ditemui”. Kalimat seperti itu sering dijumpai pada obrolan mahasiswa tingkat akhir.

Karena, belum tentu penelitian yang kita anggap mudah bisa diselesaikan tepat waktu oleh kita. Sedangkan dospem yang mudah ditemui bisa saja menuntut mahasiswanya untuk merevisi berulang kali. Intinya, jangan menganggap remeh orang lain dan hindari untuk membandingkan si A dengan yang lain.

Selain itu, ada juga kesulitan dan lika-liku lainnya yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir. Berikut di antaranya.

1. Kecocokan Mahasiswa dan Dosen Pembimbing

Foto: Pexels

Kebijakan tiap kampus yang berbeda-beda membuat mahasiswa kebingungan menentukan topik tugasnya. Jika merasa belum cocok dengan dospem, sebagai mahasiswa harus mengalah untuk mengerti dan memahami beliau. Karena anggap saja dospem sebagai orang tua kedua, so, kalo membantah tahu sendiri konsekuensinya ‘kan.

2. Bahan dan Sampel Penelitian

Foto: Pexels

Bagi mahasiswa yang rajin ke perpustakaan dan sering membaca tugas akhir kakak tingkatnya, akan lebih mudah untuk menentukan topik yang akan diambilnya saat tugas akhir. Pemilahan materi atau rujukan yang banyak serta sampel yang digunakan selama penelitian tugas akhir juga harus dipertimbangkan. Kalaupun mendapatkan dospem yang tidak sesuai keinginan awalnya, bisa memiliki cadangan lain karena sering membaca penelitian dari kakak tingkat.

3. Teman Sudah Selesai

Foto: Pexels

Belum tentu yang daftar seminar proposal lebih dahulu juga akan selesai lebih cepat. Pasalnya, semuanya memiliki kapasitas masing-masing. Jika teman sudah selesai, rasa malas untuk segera melanjutkan revisi akan semakin meningkat. Namun ada juga yang semakin terpacu untuk segera menyelesaikan revisi yang diberikan. Tentu tidak semua bisa disamaratakan, karena tiap orang memiliki cara tersendiri untuk melecutkan semangatnya.

4. Tuntutan Orang Tua

Foto: Pexels

Mahasiswa tingkat akhir selain memiliki beban tugas akhir yang harus segera diselesaikan juga tuntutan dari orang tuanya. Orang tua siapapun menginginkan agar anaknya segera lulus sarjana atau diploma secepatnya untuk bisa dibanggakan. Tak jarang, tuntutan dari orang tua semakin membuat frustasi dan enggan untuk segera merampungkan tugas akhirnya.

5. Waktu Nongkrong Berkurang

Foto: Pexels

Ada satu lagi nih yang pasti terjadi pada mahasiswa tingkat akhir, yaitu waktu nongkrong atau ngafe menjadi berkurang dari biasanya. Kalaupun masih ada waktu nongkrong, itu pun disambi dengan mengerjakan revisian dari dosen pembimbing.

Itulah Dears, lika-liku kehidupan sebagai mahasiwa tingkat akhir. Tidak semua orang menjalani hal serupa seperti di atas, namun sebagian besar mengalami hal itu di fase-fase kritis mahasiswa tingkat akhir. Bahkan, ada yang tidak peduli sudah makan atau belum hanya karena ingin segera menyelesaikan tuntutan tugas akhirnya. Intinya, kesulitan tiap orang berbeda-beda dan sudah punya porsi penyelesaiannya masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *