lailatul qomariah

Kisah Lailatul Qomariyah, Putri Seorang Penarik Becak di Madura yang Meraih Gelar Doktor di Usia 27 Tahun. Membanggakan, Dears!

Kisah Lailatul Qomariyah sempat viral akhir tahun kemarin, betapa mengharukannya perjuangan perempuan yang berusia 27 tahun, putri seorang pengayuh becak meraih gelar doktor di ITS.

Lailatul Qomariyah merupakan putri tukang becak yang berasal dari Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura. Ia memiliki dua orang adik. Putri sulung dari Rusmiati dan Saningrat berhasil menyesaikan studi S3 jurusan teknik kimia di Fakultas Tekhnologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Lailatul Qomariyah menuliskan  disertasi berjudul “Controllable Characteristic Silica Particle and ITS Composite Production Using Spray Process,” pada sidang terbuka disertasi yang diselenggarakan tanggal 04 September 2019 yang lalu.

Lulus Cumlaude dengan IPK 4.0

Lailatul Qomariyah menjadi satu-satunya  dari 85 orang mahasiswa yang mengikuti program S-3 yang meraih IPK 4.0. Keren, banget, ya, Dears!

Disertasi Lailatul Qomariyah tentang aplikasi silika untuk solar sel. Solar sel digunakan untuk menyimpan energi matahari yang dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik.

“Energi surya kan banyak dan melimpah. Daripada menggunakan batu bara untuk sumber listrik, bukankah lebih baik menggunakan sumber energi matahari. Sehingga cukup dengan solar sel yang bisa dikonversi menjadi energi listrik” Kata Laila, seperti dilansir Tribunnews, 08 September 2019.

Bagi perempuan kelahiran 16 Agustus 1992, rasanya sangat bahagia dapat mewujudkan cita-cita dan meraih gelar doktor, gelar tertinggi dalam pendidikannya.

Ia bersyukur pada Allah SWT dan ayahnya yang juga menyaksikan sidang disertasi Lailatul Qomariyah ini. Baginya Ayah sudah bekerja keras menafkahi keluarga selama ini.

Tak ada yang tak mungkin jika mau berusaha dan yakin dengan kemampuan diri. Meski berasal dari keluarga yang kurang mampu tak membuatnya putus asa dan rendah diri. Jadi panutan kita, ya, sikap Lailatul Qomariyah ini, Dears!

Perjuangan Lailatul Qomariyah hingga kuliah S3

Lailatul Qomariyah, kini menjadi asisten dosen di ITS.  Sejak SD, SMP hingga SMA, ia selalu meraih peringkat pertama. Pulang pergi ke sekolah diantar naik becak ayahnya. Sejak dua bulan setelah masuk SMU 1 Pamekasan, Laila tak ingin membebani sang ayah, ia memilih naik sepeda pancal dan menempuh perjalanan sekitar 10 km setiap harinya.

Lailatul Qomariyah sudah belajar mandiri sejak SMU, ia tak meminta uang untuk biaya sekolahnya. Ia mengajar les privat dan mendapatkan penghasilan sendiri, selain itu Laila pun mendapatkan beasiswa di SMU.

Lailatul Qomariyah menyadari bahwa ia berasal dari keluarga yang tak mampu, ibunya hanya seorang buruh tani dan ayahnya seorang penarik becak, sehingga ia tak ingin mengandalkan kedua orang tuanya. Bersyukur Allah memberikan jalan untuknya.

Saat berencana untuk kuliah, Lailatul Qomariyah banyak mendapatkan cibiran dari tetangganya di kampung. Mereka menyepelekan Laila yang hanya seorang anak penarik becak. Namun, semua itu tak menyurutkan langkahnya untuk menimba ilmu. Baginya semua itu menjadi motivasi yang menguatkannya.

Setelah lulus SMU tahun 2011 yang lalu, Lailatul Qomariyah melanjutkan kuliah di Fakultas Teknologi Industri ITS kemudian melanjutkan jenjang S2 dan S3 di sana.

Lulus S3 dalam waktu yang relatif singkat

Laila menjadi satu-satunya mahasiswa yang dapat menyelesaikan kuliah S2 dan S3 dalam waktu tiga tahun, waktu yang relatif singkat tentunya.

Untuk bisa melanjutkan ke S3, Lailatul Qomariah telah melewati proses seleksi yang cukup panjang. Salah satu persyaratannya adalah dengan IPK minimal 3.5, karena IPK Laila melelbihi batas yang ditentukan karena IPKnya 4.0 sehingga ia bisa lolos kuliah ke S-3 lewat jalur Fast Track dan mendapatkan beasiswa Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU) di ITS. Keren banget, ya, Dears!

Mendapatkan beasiswa riset disertasi ke Jepang

Lailatul Qomariyah pun memiliki kesempatan melakukan riset ke Jepang untuk disertasinya. Ia melakukan penelitian mengenai manfaat aplikasi silika solar sel sebagai pengganti energi yang berasal dari minyak bumi dan batubara.

Satu tahun tinggal di Jepang dari tahun 2017-2018, Lailatul Qomariah tinggal sendiri karena hanya ia saja mahasiswi yang memperoleh beasiswa dari pemerintah.

Meski tinggal sendiri, Laila mengaku bahagia karena semua ini dilakukannya untuk meraih cita-cita tertinggi dalam pendidikan dan sumbangsihnya untuk ilmu pengetahuan.

Lailatul Qomariyah adalah putri seorang penarik becak, namun hal itu tak membuatnya menyerah meraih cita-cita untuk melanjutkan kuliah ke jenjang tertinggi.

Ia dapat membuktikan bahwa dengan kerja keras, mandiri tanpa mengandalkan orang tua, selalu bersyukur menjalani hidup dan melakukan yang terbaik membuatnya meraih cita-cita dan di usia muda, yaitu 27 tahun, Lailatul Qomariah sudah meraih gelar doktor. Kisah Lailatul Qomariah ini sangat inspiratif dan membanggakan. Setuju, kan, Dears?

 

Featured image: Photo on Jawa Pos
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *