Kisah 7 Wanita Ini Diabadikan dalam Alquran, Mulai dari yang Salihah sampai Durhaka

Dears, kisah wanita hebat dalam sejarah ternyata bisa kita temui juga di Alquran. Allah SWT mengabadikan beberapa kisah wanita dalam Alquran, baik itu karena kesalihannya, kesabarannya, bahkan kedurhakaannya.

Betapa bahagianya hamba salihah yang penggalan kisah hidupnya Allah SWT abadikan dalam Alquran sebagai teladan. Namun betapa nistanya orang-orang yang kejahatannya Allah SWT catat di Alquran sebagai contoh buruk bagi seluruh manusia. Siapa sajakah para wanita tersebut? Yuk, simak ulasannya, Dears!

 

  1. Hawwa, Istri Adam a.s.

Hawwa adalah istri Adam, manusia pertama yang Allah SWT tugaskan menjadi Khalifah di muka bumi. Hawwa menemani Adam baik saat suka maupun duka. Baik saat berada di surga sampai ketika dihukum dan diturunkan ke bumi. Bahkan saat terpisah, Hawwa tetap setia dan berjuang keras untuk dapat bertemu dengan suaminya.

Selain itu, dari rahim beliaulah kemudian dilahirkan anak keturunan yang menjadi cikal bakal peradaban manusia di bumi.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

( QS Al Baqarah : 35 )

 

  1. Istri Nuh a.s.

Istri Nuh adalah termasuk golongan orang kafir. Dia berkhianat kepada suaminya dan tidak percaya pada apa yang disampaikan oleh Nabi Nuh mengenai keesaan Allah SWT. Bukan hanya itu, dia bahkan menghasut masyarakat di sekitarnya sehingga mereka menganggap Nuh gila karena membuat sebuah perahu besar.

Allah SWT memasukkan istri Nuh serta anaknya yang durhaka ke dalam golongan orang-orang kafir dan menenggelamkannya ke dalam banjir dahsyat.

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”.

( QS At Tahrim : 10 )

 

  1. Sarah, Istri Ibrahim a.s., Ibu dari Ishaq a.s.

Sarah adalah istri pertama Nabi Ibrahim. Dalam usianya yang sudah lanjut, beliau belum juga dikaruniai keturunan. Dengan kesabaran dan kebesaran hatinya, Sarah meminta Ibrahim untuk menikahi Hajar. Namun Ibrahim menolak, tapi Sarah tak putus asa dan terus membujuk Ibrahim hingga mau menikahi Hajar.

Allah SWT kemudian menyampaikan kabar gembira kepada Sarah dengan kelahiran seorang anak, yaitu Ishaq. Bagi Allah SWT, tidak ada yang mustahil, meskipun Sarah seorang perempuan tua yang mandul.

“…dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq)…”

( QS Adz Dzaariyat : 28)

 

  1. Hajar al-mishriyyah, Istri Ibrahim a.s. dan Ibu dari Ismail a.s.

Hajar adalah gambaran wanita penuh kesabaran dan kepasrahan pada Allah SWT. Kala itu, saat Ismail masih bayi, Ibrahim meninggalkan mereka di Makkah yang daerahnya tandus dan gersang. Perjuangannya bolak-balik mencari air antara bukit Shafa dan Marwa hingga akhirnya terpancarlah mata air Zamzam di sisi kaki Ismail. Allah SWT mengabadikan perjuangan Hajar menjadi salah satu rukun ibadah haji, yaitu sa’i.

Begitulah Hajar yang tak pernah putus asa akan rahmat Allah SWT. Hajar percaya bahwa hanya Allah SWT yang akan menjaga dan mencukupi segala kebutuhan mereka, dan tentunya diiringi ikhtiar yang maksimal.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur…”

( QS Ibrahim : 37 )

 

  1. Istri Luth a.s.

Sebagaimana istri Nuh yang termasuk ke dalam golongan yang berkhianat pada suaminya dan kafir pada Allah SWT, demikian juga halnya dengan istri Luth. Padahal sebagai istri nabi, mestinya ia menjadi orang pertama yang percaya dan taat pada apa yang dibawa oleh sang suami, tapi kenyataannya ia justru ingkar.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa berada dalam naungan hamba yang saleh, tidak serta merta menjadikan seorang istri menjadi hamba yang salihah juga. Jangan lengah dan berleha-leha dalam beribadah. Terus memohon pada Allah SWT untuk menjaga hati kita dalam keimanan.

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya):
“Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”. 

( QS At Tahrim : 10 )

 

  1. Maryam, Puteri Imran, Ibu dari Isa al-masih a.s.

Maryam adalah gadis yang selalu menjaga kesuciannya dan menghabiskan waktunya hanya dengan beribadah pada Allah SWT. Hingga kemudian Allah SWT memilihnya untuk melahirkan seorang anak, yaitu Isa, tanpa sentuhan seorang lelaki.

Maryam harus menghadapi kehidupan yang berat setelahnya, tapi dengan itu semua Allah SWT hendak memuliakannya di atas segala wanita pada masa itu, dan memberi penghormatan dengan sebuah surah dalam Alquran dengan namanya, yaitu surah Maryam, surah yang ke 19.

 

  1. Asiyah, Istri Fir’aun, Ibu angkat dari Musa a.s.

Asiyah sebagai Ibu angkat Musa telah berjasa menjaga hidup Musa. Dia mendidik dan merawatnya dengan penuh cinta serta kasih sayang seorang ibu. Dalam perjalanan rohaninya, Asiyah melewati begitu banyak cobaan berat demi menjaga keimanannya pada Allah SWT. Dia harus sembunyi-sembunyi saat akan melakukan ibadah. Karena suaminya, Fir’aun, adalah raja paling bengis yang menganggap dirinya Tuhan yang harus disembah.

Sampai suatu waktu Fir’aun mengetahui tentang keimanan Asiyah. Fir’aun menghukumnya dan memberikan pilihan yang sulit. Hingga akhirnya Asiyah lebih memilih kematian daripada harus melepaskan keimanannya. Allah SWT memberinya penghormatan dan mengabadikannya dalam Alquran.

Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim…”

(At-Tahrim :11)

 

Dears, itulah kisah 7 wanita yang Allah SWT abadikan dalam Alquran, yang tentunya harus kita jadikan pedoman dan pelajaran untuk menjalani kehidupan ini. Semoga kita bisa mencontoh akhlak dan perilaku para wanita mulia dalam kisah-kisah di atas dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk seperti yang dilakukan para istri nabi yang durhaka. Aamiin ya robbal’alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *