Filosofi Masyarakat Jawa Merayakan Bodho Kupat, Tradisi Lama yang Sarat Makna

Mumpung masih dalam suasana yang suci ini, mohon maaf lahir dan batin ya, Dears. Kita mulai dari nol lagi. Hehe..

Tentu kita sudah mengetahui, umat Muslim merayakan Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal. Setelah itu, kita disunahkan untuk berpuasa sunah selama enam hari selama bulan Syawal, tepatnya tanggal 2 sampai 7 Syawal, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian ia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, ia akan mendapat pahala seperti berpuasa setahun penuh”. (HR Muslim).

Nah, Dears, setelah puasa sunah itu berakhir atau tepatnya tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Jawa biasa merayakan bodho kupat.

Bodho sendiri berasal dari kata Bakdho atau selesai, namun secara umum dapat diartikan sebagai Lebaran. Sedangkan kupat dalam Bahasa Jawa berarti ketupat. Jika digabungkan artinya lebaran ketupat.

Memang agak berbeda dengan tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya yang menikmati ketupat pada saat Idul Fitri. Masyarakat Jawa biasa memasak ketupat tujuh hari setelah Idul Fitri.

Bukan bermaksud bid’ah atau mengada-ada yang bukan ajaran Rasullulah, namun tradisi ini adalah salah satu upaya para wali dalam menyebarkan agama Islam.

Sudah tahu belum, Dears, kalau bodho kupat sendiri memiliki banyak makna tersirat. Banyak filosofi yang terkandung di dalamnya, di antaranya:

Kupat Mengandung Filosofi “Ngaku Lepat

Ngaku lepat dalam Bahasa Jawa berarti mengakui kesalahan. Setelah berpuasa dan saling mengakui kesalahan, maka kita akan saling bermaaf-maafan. Dengan saling memaafkan, silaturahmi akan semakin terjalin erat.

Bahan Pembungkus Kupat Berasal dari Janur, yang Mengandung Filosofi “Sejatine Nur

Sejatine nur bisa diartikan hakikat cahaya. Setelah berpuasa, jiwa kita akan kembali suci seperti cahaya. Dosa-dosa diampuni dan jiwa menjadi lebih tenang sebagaimana telah mendapat cahaya kebaikan.

Beras yang ditanak sampai menjadi pulen dan menyatu menggambarkan kuatnya persaudaraan umat Muslim, apalagi setelah saling menyucikan diri dan saling memaafkan satu sama lain.

Nah, Dears, itulah filosofi dari ketupat. Kalau kamu, kapan makan ketupatnya? Kapan pun itu, yang terpenting jiwa kita kembali suci dan dapat terus berbuat kebaikan. Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *