Fatimah binti Ubaidillah, Sang Pendidik Ulama Besar

Siapa yang tak kenal dengan sosok Imam Syafi’i? Seorang ulama mazhab yang memiliki keluasan ilmu, kecerdasan yang luar biasa, serta kekuatan dalam menghafal. Imam Syafi’i telah menghafalkan Alquran sejak usia 7 tahun. Kemudian mulai menghafal banyak hadist sejak usia 9 tahun dan telah menjadi mufti sejak usia 14 tahun. Jika kita bertanya, apa rahasia sukses dari Imam Syafi’I, maka semua itu tak lepas dari sosok wanita yang selalu ada di belakangnya. Perempuan yang selalu berjuang dan berkorban untuknya. Sosok yang selalu memberikan pendidikan terbaik dan memfasilitasi pendidikan terbaik untuknya. Wanita itu adalah ibunda Imam Syafi’i, Fatimah binti Ubaidillah.

Memilihkan Ayah Terbaik

Ayah Fatimah menikahkan Fatimah dengan Idris, ayah Imam Syafi’I, karena kejujurannya. Suatu hari Idris menemukan buah delima dipinggir sungai dalam perjalanannya. Karena rasa lapar yang luar biasa, dia pun memakan buah itu. Setelah dia memakan buah itu, barulah dia ingat bahwa buah itu bukanlah miliknya dan tak ada hak baginya untuk menikmati buah itu. Kekhawatirannya pun timbul, bagaimana jika ada makanan yang tak halal masuk dalam tubuhnya? Akhirnya, dia memutuskan untuk menyusuri sungai dan berusaha menemui pemilik kebun untuk meminta izin atas buah yang termakan olehnya.

Singkat cerita akhirnya Idris bertemu dengan pemilik kebun itu yang tak lain adalah Ubaidillah, Kakek Imam Syafi’i. Ubaidillah mengizinkan Idris untuk memakan buah yang terjatuh tadi dengan syarat dia harus mau menjaga kebunnya selama 1 bulan dan menikahi puterinya. Begitulah kisah pertemuan orang tua Imam Syafi’i. Sosok pemuda jujur yang sangat menjaga dirinya yang akhirnya menikah dengan wanita yang terjaga pandangannya, terjaga pendengarannya, dan juga terjaga dari maksiat.

Menjaga Setiap Makanan yang Masuk dalam Perut Imam Syafi’i

Suatu ketika Imam Syafi’i ditinggal sendirian oleh ibunya di rumah. Karena lapar, Imam Syafi’I kecil pun menangis. Mendengar suara tangisan ini, tetangga yang kebetulan menyusui pun tidak tega dan berusaha memberikan susunya kepada Imam Syafi’i. Sesampai Fatimah di rumah, dia mengetahui bahwa anaknya telah disusui oleh tetangganya. Khawatir ada hal yang tak halal masuk tubuh anaknya, Fatimah mengangkat tubuh Imam Syafi’i terbalik dan mengguncang-guncangkan perutnya sampai semua yang masuk ke dalam perut kecil itu keluar lagi.

Begitulah Fatimah menjaga anaknya dari hal-hal yang tidak halal masuk ke dalam perutnya. Jangankan yang haram, syubhat pun akan dia hindari. Fatimah sepenuhnya sadar dan paham bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh anaknya akan amat sangat berpengaruh terhadap watak, karakter, dan kepribadian anaknya kelak. Oleh karena itu, dia sangat berhati-hati terhadap air susu atau makanan apapun yang masuk ke dalam perut anaknya.

 


Pilihan Editor:

Sontek Semangat dan Kepercayaan Diri Aliqqa Kayyisa Noverry, Sang Skateboarder Balerina

Bikin Baper Para Singlelillah, Ini Dia 7 Fakta Perjalanan Cinta Anisa Rahma dan Anandito yang Bikin Iri

5 Perempuan Muslimah Ini Patut Kita Jadikan Inspirator dalam Menulis, Mana yang Kamu Idolakan?


 

Memberi dan memfasilitasi pendidikan terbaik untuk anaknya

Mekkah adalah tempat terbaik yang di dalamnya berkumpul ulama-ulama terbaik pada masa itu. Pada usia 10 tahun, Imam Syafi’i diminta oleh ibunya untuk belajar langsung dari para ulama di Mekkah. Kehidupan mereka yang serba kekurangan tak membuat Fatimah surut dalam mengupayakan ilmu bagi anaknya.

“Aku terlahir sebagai anak yatim dalam asuhan ibuku. Ibu tak memiliki uang sedikitpun yang bisa diberikan kepada guruku. Sebagai gantinya, akulah yang harus mengurus anak-anak didik Beliau ketika Beliau absen dan meringankan sebagian tugasnya. Seringkali aku harus mencari potongan-potongan tulang sebagai media menulis.”

Begitulah kisah Fatimah binti Ubaidillah dalam mendidik dan membesarkan Sang Ulama Besar, Imam Syafi’i. Fatimah telah membuktikan petuah Hasan Al Banna, “wanita adalah tiang negara, jika baik wanita dalam suatu negara maka baik pulalah negara tersebut, namun jika buruk wanitanya, maka buruk pulalah negaranya.” Kini nama Imam Syafi’i masih terus bersinar karena khazanah ilmunya dan terus bersinar diasah masa.

Sumber Foto: Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *