Dears, Lakukan 10 Hal Ini jika Anak Memiliki Riwayat Kejang Demam yang Sering Berulang

Memiliki anak yang sehat adalah harapan semua orang tua di dunia ini. Namun, ada beberapa anak yang memang terlahir istimewa, salah satunya anak dengan riwayat kejang demam. Kejang demam seringkali terjadi pada anak balita, karena riwayat genetik, kelainan pada saraf dan karena adanya penyakit tertentu. Jika ibu memiliki anak dengan riwayat kejang demam, sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut, Dears.

1. Kenali Pemicunya

Kejang demam terjadi saat suhu tubuh anak mencapai batas tertinggi yang mampu ditolerir oleh tubuhnya. Beberapa anak mengalami kejang demam pada suhu 39 derajat celsius atau lebih. Namun banyak juga yang mengalami kejang demam pada suhu 38 derajat celsius. Yang harus dipahami para orang tua adalah mengenali pemicu panas yang timbul. Apakah karena kelelahan, terpapar panas atau suhu udara terlalu dingin, atau karena penyakit tertentu seperti diare, influenza, radang saluran kencing dan sebagainya. Jika kelelahan sering menjadi pemicu timbulnya demam, jangan memaksa anak melakukan aktivitas berlebihan atau melakukan perjalanan jauh. Percayalah, anak masih memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang di masa depan saat tubuhnya sudah tidak rentan demam. Jika anak terserang penyakit tertentu, segera bawa ke dokter atau pusat kesehatan terdekat. Pastikan anak mendapat pengobatan agar tidak memicu timbulnya demam.

2. Sediakan Termometer di Rumah, Tempat Penitipan Anak dan Sekolah

Termometer badan adalah alat terbaik untuk mengukur suhu anak. Jika anak mulai menunjukkan tanda tidak nyaman seperti lemah, malas bergerak, malas makan dan minum atau menunjukkan gejala penyakit tertentu, segera ukur suhu badan anak. Jika sudah mendekati ambang batas suhu di mana anak sering mengalami kejang demam, segera berikan penurun panas yang biasa dikonsumsi dan segera bawa ke dokter atau pusat kesehatan terdekat. Termometer sebaiknya selalu tersedia di tempat di mana anak tinggal untuk waktu yang cukup lama, misalnya tempat penitipan anak atau sekolah. Ajarkan pengasuh bagaimana menggunakannya sehingga tidak terlambat dalam penanganan.

3. Jangan Panik

Kepanikan mungkin akan terjadi saat anak kejang demam. Sebagai orang tua, berusahalah untuk tidak panik, karena pertolongan pertama harus segera dilakukan. Tidurkan anak dalam kondisi nyaman dan pastikan jalan napasnya tetap terbuka. Pastikan juga lidah tidak tergigit dengan memasukkan jari orang tua yang dibungkus kain lembut. Tidak disarankan memasukkan benda keras seperti sendok karena akan merusak gigi anak dan organ mulutnya. Jika ibu, ayah atau pengasuh menghadapi kejadian kejang demam sendirian, jangan malu untuk berteriak minta tolong kepada tetangga. Hal ini penting karena perlu berbagi tugas untuk menjaga jalan napas anak dan ada orang lain yang memasukkan  obat pereda kejang melalui dubur anak.  Biasanya setelah obat pereda kejang masuk, anak akan lemas dan kejangnya menghilang. Segera bawa ke dokter atau pusat kesehatan terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

4. Selalu Siapkan Obat

Obat adalah amunisi  utama yang harus dimiliki anak dengan riwayat kejang demam. Obat penurun demam wajib dimiliki, sehingga sewaktu-waktu suhu tubuhnya naik, obat segera dapat dikonsumsi. Obat pencegah kejang biasanya diresepkan oleh dokter dan dikonsumsi saat anak demam. Orang tua harus memastikan mengikuti resep yang diberikan oleh dokter anak, sehingga obat memberikan efek penyembuhan maksimal.

Obat pereda kejang anal juga harus disediakan orang tua sehingga kejang terjadi dapat langsung dimasukkan lewat dubur sebagai pertolongan pertama. Saat obat sudah digunakan,  maka mintalah resep baru untuk pereda kejang anal sehingga obat dimaksud selalu tersedia di rumah. Yang perlu diketahui para orang tua adalah bahwa obat pereda kejang anak yang biasanya berupa Diazepam tidak dijual bebas.

5. Tas Serbaguna

Sebagai antisipasi kejadian darurat, siapkan sebuah tas serbaguna yang berisi kebutuhan anak ketika harus dibawa ke dokter atau pusat kesehatan terdekat. Masukkan pakaian ganti minimal 1 stel, handuk dan peralatan mandi kecil, minyak kayu putih atau minyak telon, tisu, sapu tangan untuk kompres, selimut, kaos kaki, air mineral dan biskuit. Jika tas sudah digunakan, persiapkan kembali untuk antisipasi kejadian terulang. Dengan tas yang selalu siap tersedia, orang tua tidak perlu berkemas-kemas lagi saat anak harus mendapatkan penanganan kesehatan sesegera mungkin.

6. Keluarga dan Tetangga Siaga

Kejadian kejang demam adalah kejadian yang tidak terduga, bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jika anak memiliki riwayat kejang demam, maka ceritakan kondisi yang sebenarnya kepada keluarga besar dan tetangga, sampaikan permintaan agar berkenan menjadi keluarga dan tetangga yang siap antar jaga (siaga). Ketika salah satu atau  kedua orang tua tidak ada, keluarga besar dan tetangga dapat ikut membantu menangani dan membawa anak ke dokter atau pusat kesehatan terdekat.

7. Bersahabat dengan Rumah Sakit

Beberapa orang tidak suka atau bahkan alergi rumah sakit dan memilih menangani sendiri anak yang mengalami kejang demam di rumah. Namun harus disadari bahwa tidak semua kejadian dapat ditangani sendiri oleh orang tua, terutama saat anak susah makan dan minum. Kejadian kejang demam seringkali berulang dalam waktu berdekatan karena ternyata anak mengalami dehidrasi. Bukan hal mudah memaksa balita untuk minum dan makan saat badannya dalam kondisi sakit, sehingga bantuan infus lebih efektif. Jadi pilihlah opsi rawat inap jika kondisi anak menuntut untuk itu.

8. Komunikasikan Kondisi Anak ke Sekolah

Berbagilah informasi kepada guru dan wali murid yang sekelas dengan anak di PAUD atau TK. Sampaikan kondisi anak yang rawan kejang demam, berikan informasi mengenai pemicu demamnya dan apa yang harus dilakukan jika anak mengalami kejang demam di sekolah. Beberapa anak mungkin harus pulang lebih awal jika sudah kelelahan atau tidak dapat mengikuti kegiatan outing yang dilakukan pihak sekolah karena kondisinya. Komunikasikan juga hal tersebut kepada wali murid lainnya sehingga tidak memberi kesan bahwa orang tua meremehkan institusi sekolah beserta semua kegiatannya.

9. Konsultasi dengan Dokter Saraf

Dokter anak biasanya akan memberikan rujukan ke dokter saraf untuk mengetahui perkembangan saraf dan tumbuh kembang anak yang sering mengalami kejang demam berulang. Lakukan apa yang diminta oleh dokter saraf, misalnya CT Scan, pemeriksaan dan terapi tumbuh kembang. Beberapa anak tidak mengalami permasalahan tumbuh kembang meskipun sering kejang demam. Namun ada juga yang harus mengikuti kelas terapi tumbuh kembang karena kejang demam berpengaruh pada sarafnya. Dokter saraf juga mungkin memberikan beberapa nasihat yang sebaiknya ditaati oleh orang tua.

10. Amati Perkembangan Fisik dan Mentalnya Lebih Seksama

Meskipun dokter saraf menyampaikan bahwa riwayat kejang demam tidak berpengaruh pada tumbuh kembangnya, orang tua harus selalu waspada. Amati perkembangan fisik dan mentalnya lebih seksama. Lakukan stimulus yang sangat bermanfaat bagi anak sesuai umurnya dan jangan lupa untuk selalu memastikan anak berlimpah kasih sayang dari orang tua dan saudara-saudaranya meskipun memiliki riwayat kejang demam.

Apa pun kondisinya, semoga anak kita selalu tumbuh dan berkembang dengan sempurna ya, Dears. Anggaplah riwayat kejang demam yang dimiliki buah hati sebagai sebuah isyarat agar kita lebih memerhatikan dan menyayanginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *