Dears, Kenali 7 Ciri Anak Hiperaktif dan Metode Bimbingannya Agar Situasi Aman Terkendali

Pernahkah kamu bertemu dengan anak yang tidak mau diam dan seolah tak terkendali? Bisa jadi, anak tersebut adalah anak hiperaktif. Menurut Seto Mulyadi, anak yang hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa konsentrasi, dan bertindak sekehendak hatinya alias impulsif.

Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai anak-anak lain seusia mereka. Ini disebabkan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasyikkan namun tak kunjung datang.

Beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif, antara lain, karena berorientasi pada kesenangan, pemanjaan, dan kurangnya disiplin serta pengawasan dari orang tua.

Apa saja 5 ciri yang dapat dikenali bahwa anak kita termasuk hiperaktif atau tidak? Lalu bagaimana  metode bimbingan yang tepat untuk anak tersebut? Berikut ulasannya, Dears.

Ciri Anak Hiperaktif

1. Kurang Konsentrasi

Anak hiperaktif mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Hal ini karena konsentrasi anak yang menyebar, sehingga stimulasi yang diberikan menjadi terhambat dan perlu waktu yang relatif lama.

2. Bersikap Apatis terhadap Lawan Bicaranya

Jika diajak bicara anak hiperaktif tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya. Ia cenderung acuh dan tidak memedulikan lawan bicaranya.

3. Selalu Bergerak

Anak hiperaktif tidak dapat duduk tenang walaupun dalam batas waktu lima menit dan suka bergerak, selalu tampak gelisah.

4. Emosinya Labil

Tingkah laku anak sulit diduga, khususnya emosinya: labil (rewel tanpa sebab), “mudah meledak” hanya oleh sedikit masalah, dan mudah ngambek.

5. Sering Mengganggu Orang Lain

Anak hiperaktif sering mengucapkan kata-kata secara spontan. Ketika pelajaran, ia juga sering melontarkan pertanyaan yang tak bermakna kepada guru. Hal tersebut berarti mengganggu orang lain.

 

Metode Bimbingan bagi Anak Hiperaktif

Menurut Moeslichatoen, ada beberapa metode yang bisa digunakan unuk membimbing anak hiperaktif, antara lain:

1. Metode Bercerita

Metode bercerita bagi anak-anak usia 3-5 tahun merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak secara lisan. Ada beberapa teknik bercerita yang dapat digunakan, yaitu: membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, memakai boneka, atau bermain peran.

2. Metode Tanya Jawab

Dengan metode tanya jawab ini akan terjadi komunikasi antara orang tua atau guru, dan anak. Dengan cara ini anak tersebut akan memberikan perhatiannya.

3. Metode Pekerjaan Tangan

Ajak anak untuk membuat bentuk dari lilin malam, atau melukis dengan pasir warna-warni. Dengan metode ini konsentrasi anak akan terpusat pada kegiatan tersebut, sehingga ia tak lagi mengganggu teman yang lainnya.

4. Metode Pemberian Tugas

Pemberian tugas kepada anak hiperaktif ini haruslah yang membangkitkan minat anak untuk mengembangkan tugas secara kreatif.

5. Metode Bermain

Metode bermain sangat baik diberikan kepada anak tersebut karena anak akan belajar mengendalikan diri sendiri, dan memahami dunianya. Permainan yang dapat dilakukan seperti merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompat, dan melempar.

Namun, tidak semua tingkah laku anak yang berlebihan dapat digolongkan sebagai hiperaktif, ya, Dears. Karena itu, kamu perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif ini.

Untuk bisa menangani anak hiperaktif, ada baiknya pula jika kamu dan anggota keluarga yang ada di sekeliling anak tersebut mengikuti parenting skill trainning  lanjutan tentang anak hiperaktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *