Catcalling, Kekerasan dan Pelecehan Terselubung Bagi Kaum Hawa. Kenali, Yuk!

Catcalling merupakan tindakan kekerasan seksual verbal dan pelecehan yang dibalut dengan candaan atau pujian, Dears. Pernah mengalami digoda orang asing, terutama laki-laki di jalan, diteriaki atau disiuli? Risih, bukan? Nah, kesemua hal tersebut adalah contoh perbuatan catcalling. Teriakan, ‘Hai cantik’, ‘Sendirian aja, Neng!’, ‘Wow, seksi sekali!’, atau sekedar disiuli, terkesan lumrah, padahal ini merupakan bentuk pelecehan seksual juga, lo.

Biasanya catcalling, dialami oleh korban perempuan yang berjalan sendiri di tengah kerumunan kaum adam. Salah satu bentuk street harassment ini, lebih sering menyudutkan perempuan sebagai korban sekaligus pemicunya. Jadi, banyak yang menganggap hanya sekadar candaan belaka dan menjadikannya hal yang tidak penting. Padahal, catcalling juga berpotensi membuat korban memiliki trauma mendalam. Ada beberapa fakta tentang catcalling yang wajib kita tahu, Dears.

Hukum Tertulis

Pict by lifehack.org

Catcalling juga termasuk dalam kategori kekerasan seksual verbal. Namun, di Indonesia memang belum ada hukum tertulis yang mengaturnya, karena hukum negara kita masih berfokus pada kekerasan seksual secara fisik saja. Padahal, catcalling bisa membuat korban merasa tidak aman, terintimidasi dan memengaruhi kondisi psikologis. Baru dua negara, Belgia dan Perancis, yang sudah memasukkan catcalling sebagai tindakan kekerasan dan kriminalitas, serta mengaturnya dalam hukum tertulis. Semoga, secepatnya, hukum di Indonesia juga memberlakukan hal yang sama, ya.

Dampak Catcalling

Photo by Ben White on Unsplash

Bagi sebagian orang, diteriaki ‘Cantik!, mau kemana?’ mungkin menyenangkan, tapi ternyata bagi sebagian lagi malah sebaliknya, bikin malu, dan tidak percaya diri. Hal ini akan mengakibatkan rasa terkungkung dan tidak dapat bergerak bebas di ruang publik. Pastinya, para korban catcalling akan merasa takut saat berpapasan dengan sekumpulan orang, atau bahkan akan berbalik arah untuk menghindar. Pada akhirnya, semua aktivitasnya jadi terhambat dan merugikan korban.

Cara Mengatasi Catcalling

Agar terhindar dari catcalling, berpakaianlah lebih rapi dan sopan. Hal ini untuk meminimalkan pandangan ‘nakal’, lebih baik mencegah hal-hal yang buruk ya, Dears. Walau, pelaku catcalling juga terkadang menganggu perempuan yang sudah menutup auratnya. Kalau memang harus melewati sekumpulan orang, pura-puralah menyibukkan diri, seperti dengan menelpon, untuk mengalihkan perhatian. Bila telah terjadi catcalling, tunjukkan ekspresi wajah judes dan tidak suka. Namun, bila sudah menyentuh dan menyinggung, lebih baik berteriak untuk mencari pertolongan.

Akhir-akhir ini, catcalling berkembang menjadi lebih parah dan brutal dengan maraknya begal bokong atau payudara. Pastinya membuat perempuan merasa tidak aman berada di jalan sendirian, ya. Bila memungkinkan hindari berjalan sendiri dan ajak teman bersamamu, Dears.

Namun satu hal yang pasti, kita sebagai perempuan, tidak boleh lemah. Tunjukkan kalau perempuan juga bisa strong menghadapi berbagai hal yang mengancam. Perempuan bukan lagi makhluk yang bisa dijadikan korban kekerasan seksual, baik verbal maupun fisik. Kita layak kok, dihormati dan dihargai, betulkan, Dears.

 

Featured image: Photo on health.detik.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *