Buah Hati, Titipan Illahi yang Kelak Diambil Kembali

Buah hati adalah titipan Illahi yang kelak akan diambil kembali. Buah hati adalah musuh sehingga para orang tua harus berhati-hati. Buah hati adalah cobaan bagi para orang tua, karenanya kita harus bersabar. Buah hati adalah perhiasan bagi para orang tua yang membuat kita tersenyum. Bagaimana buah hati menjadi musuh, cobaan atau perhiasan, semua ada ditangan kita sebagai orang tua. Setuju, Dears?

Kita adalah produk dari orang tua, terutama ibu yang melahirkan kita. Darinya kita mengenal dan belajar banyak hal sebelum akhirnya kita bersekolah. Bagaimana mereka memperlakukan kita, begitulah karakter kita terbentuk. Perlakuan yang terkadang kita tidak suka, bahkan kita benci, ternyata begitu nyata kita lakukan. Tanpa disadari, tekanan ekonomi, sosial, dan psikologi mempengaruhi emosi kita. Sengaja atau tidak, terkadang kita bersikap kasar pada buah hati. Padahal, kita merasa sakit ketika mendapat perlakuan seperti itu dari orang tua dahulu. Bahkan, pada titik puncaknya, kita tak ingin menjadi seperti orang tua kita. Namun, perlakuan tersebut telah memainkan alam bawah sadar. Sebuah trauma yang muncul ke permukaan dan terlampiaskan pada buah hati di kemudian hari.

Perlakuan kasar tentu akan membentuk pribadi kasar dan kadang berperan sebagai penghancur. Perlakuan manis dan manja membentuk pribadi yang manis namun rapuh. Perlakuan yang seimbang antara kasar, manis, dan manja, yang menunjukkan kasih sayang, disertai teguran dan hukuman yang mendidik, dapat membentuk pribadi yang elastis, mudah menyesuaikan diri, baik, tegas, dan penyayang.

Perlakuan itu seolah mata rantai yang tak terputus. Bisakah kita memutus perlakuan buruk orang tua dahulu pada buah hati kita, bila perlakuan itu membentuk karakter yang sama persis?

Tentunya, butuh perjuangan ekstra bila tidak ingin buah hati mewarisi karakter buruk kita. Ingatlah bahwa buah hati dapat menjadi jalan ke surga atau neraka, sebagaimana firman Allah dalam Alquran, surat At Taghabun ayat 15, yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Bagaimana agar buah hati kita menjadi sumber kebahagiaan dan perhiasan dunia akhirat?

Dears, kita dapat memulainya dengan membiasakan buah hati membaca kalimat Tauhid, dengan menjelaskan maknanya, mengenalkan pada Allah Swt sedini mungkin melalui hal-hal kecil disekitarnya, mendekatkan dirinya pada Allah dengan rajin beribadah dan mengajar mereka membaca Alquran, mendekatkannya pada Rasullullah Saw dengan mengajaknya bersalawat, serta memperhatikan pergaulan mereka.

Percayalah, tak ada yang tidak mungkin untuk hamba yang senantiasa berusaha dan berdoa. Semoga buah hati kita menjadi penyejuk mata, perhiasan dunia dan akhirat. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *