Book Shaming, Pembatasan Bacaan yang Tidak Seharusnya Dilakukan si Pecinta Buku

Setiap buku memiliki peminat dan seleranya masing-masing. Tidak semestinya mengomentari dan memberi kritikan terhadap buku yang dibaca seseorang.

Dears, kamu termasuk orang yang suka membaca buku atau tidak nih, dan genre buku apa yang menjadi favoritmu? Pernah nggak sih mendapat pertanyaan mengenai genre atau buku apa yang paling suka dibaca dan selalu mengikuti update buku baru salah satu penulis. Lalu apa jawaban yang kamu berikan pernah mendapat respon yang kurang baik dari si penanya? Kalau pernah mengalami hal seperti itu berarti kamu pernah menjadi korban dari book shaming.

Jika mendengarnya sih seperti istilah keren dan tren ya Dears, namun arti dibaliknya justru membuat si korban dari pelaku book shaming ini membuatnya kurang percaya diri dan seolah menjadi orang lain ketika di depan orang banyak. Masih banyak di antara kita yang kurang menyadari jika ucapan yang terlontar mengindikasikan jika dia adalah pelaku book shaming. Yaitu tindakan mengomentari buku yang dibaca oleh orang lain yang seharusnya tidak dilakukan.

Kenapa sih mesti dikomentari? Banyak faktor yang menjadikan orang mudah melakukan book shaming yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang mengaku penggiat pembaca buku. Nah berikut alasan yang menjadikan seseorang lebih suka memberi komentar terhadap buku yang dibaca orang lain.

1. Merasa buku yang dibaca lebih keren

Pict by Instagram.android

Alasan utama mengomentari perihal buku yang dibaca orang lain adalah adanya kepercayaan diri bahwa buku yang dibacanya lebih keren, lebih worth it dan pastinya sesuai dengan kebutuhannya. Loh memangnya orang tersebut tahu jika buku yang dibaca oleh orang yang dikomentarinya itu tidak worth it dan sesuai dengan kebutuhannya. Menjudge seseorang itu lebih mudah dibanding memberi apresiasi terhadap buku apapun yang dibacanya. Toh setidaknya orang tersebut sudah lebih baik membaca buku yang artinya meningkatkan jumlah minat membaca yang masih rendah di Indonesia.

2. Penyuka wattpad dianggap alay, benarkah?

Pict by Qupas

Ada juga si pelaku book shaming ini melontarkan ucapan yang cukup menohok bagi penyuka wattpad. Mereka yang lebih suka mengikuti buku-buku terbaru yang dirilis di wattpad dicap alay karena bacaan seperti teenlit dan metropop. Benarkah? Padahal belum tentu ya Dears, nyatanya banyak juga loh buku fisik yang diterbitkan resmi oleh berbagai penerbit mayor memiliki peminat cukup banyak dan bahkan ada yang difilmkan. So, secara tidak langsung hal itu juga merendahkan si penulis di wattpad dong, jangan sampai kita menjadi pelaku book shaming, Dears.

3. Membaca buku sastra adalah tingkatan bacaan tertinggi, hmm yakin?

Pict by Instagram.android

Jika kamu termasuk penyuka buku karya Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko hingga Chairil Anwar termasuk pembaca dengan tingkatan paling atas. Begitulah kiranya anggapan sebagian orang yang mengagungkan bacaannya lebih baik dibanding orang lain. Apa benar yang katanya sebagai pembaca buku justru memiliki pemikiran seperti itu? mengkotak-kotakkan jenis buku yang lebih baik dan meremehkan buku lainnya yang terkesan tidak worth it untuk dibaca.

4. Kalau sudah dewasa tidak seharusnya baca komik, malu sama usia

Pict by Prelo

Perilaku book shaming selanjutnya jenis bacaan yang dikaitkan dengan usia seseorang. Jika usianya sudah dewasa sebaiknya tidak membaca komik, alasannya tidak sesuai dan harusnya malu sama usia. Anggapan seperti itu mungkin saja dipengaruhi oleh fakor jika cerita bergambar ini menjadi bacaan bagi anak-anak. Eits, tapi tidak juga kok, karena banyak juga komik berseri yang memiliki value untuk pembacanya dan tidak selalu dikonotasikan bacaan untuk anak-anak. Pun seperti webtoon, komik online dari aplikasi LINE ini juga peminatnya banyak yang notabene nya justru remaja dan dewasa karena cerita dan value yang diangkat relate dengan kehidupan sehari-hari.

5. Membaca buku karya penulis baru adalah generasi bucin

Pict by Instagram.android

Ada juga nih, komentar pedas yang mungkin saja mengaku pecinta buku genre non fiksi ataupun buku sastra akan mengkritik mereka yang bacaannya penulis-penulis baru seperti Tere Liye, Wira Nagara, Boy Candra, Fiersa Besari dan penulis lainnya. Mereka menganggap membaca buku dari penulis-penulis tersebut bisa dikatakan generasi bucin alias budak cinta. Tapi tidak seharusnya menjudge generasi bucin juga, toh alasan mereka memilih bacaan seperti itu karena relate dengan keadaan yang sedang dihadapi dan rasanya ada yang memiliki kondisi serupa dengannya. Setidaknya hal itu bisa membuat dirinya merasa lebih tenang.

So, tindakan book shaming ini tidak seharusnya dilakukan dan dilesatrikan ya, Dears. Karena setiap orang itu memiliki seleranya masing-masing. Seperti halnya saya suka makan mie ayam sedangkan kamu lebih suka makan sate, tidak seharusnya kamu memaksa saya untuk suka makan sate, ‘kan. Begitulah kiranya toleransi yang seharusnya dilakukan oleh orang yang katanya si penyuka buku namun masih sering melakukan tindakan book shaming.

 

Featured image: Photo on Pexels.com
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *