Berhenti Rayakan Tahun Baru! Ini 7 Alasan Kenapa Kamu Harus Meninggalkannya

Tahun baru masehi sebentar lagi tiba, Dears. Kamu tentu akrab dengan perayaan malam tahun baru yang selalu dipenuhi dengan suara kembang api dan letupan penuh cahaya di langit. Bedebum suaranya tidak pernah berhenti. Saling bersahutan di antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Bakar-bakar jagung, daging, hingga ikan sering dilakukan orang Islam pada malam pergantian tahun. Semua itu dilakukan hanya sekadar untuk asyik-asyik saja, lho. Tidak ada alasan khusus. Tapi, tahukah kamu, jika semua itu benar-benar menyalahi aturan dalam agama Islam? Bahkan bisa membawa banyak dampak buruk?

Dears, berhentilah melakukannya, sebab 7 hal ini bisa menjadi alasan paling tepat kenapa seorang muslim dilarang merayakan Tahun Baru.

Sejarah Adanya Perayaan Tahun Baru

Sebelum kamu merayakan malam pergantian tahun, ada baiknya kamu mengetahui sejarah awal perayaan tahun baru. Kenapa ada perayaan tersebut?

Perayaan tahun baru pertama kali dilakukan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Penanggalan tradisional Romawi pada saat itu akhirnya diubah oleh Julius Caesar yang baru saja resmi menjadi kaisar Roma. Penanggalan baru itu pun akhirnya dibuat berdasarkan revolusi matahari atas saran Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah.

Dalam satu tahun penanggalan tersebut, terdapat 365 seperempat hari. Caesar pun menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sampai 46 SM. Penanggalan tersebut dimulai pada 1 Januari. Caesar juga menambahkan satu hari pada bulan Februari setiap empat tahun sekali.

Sebelum Caesar terbunuh, dia sempat mengubah nama Quintilis menjadi namanya yakni Julius atau Juli. Nama Bulan Sextilis pun diubahnya juga memakai nama kaisar Agustus, yakni pengganti Caesar. Dan seperti kita tahu bersama, Dears, nama kaisar pengganti itu menjadi nama bulan Agustus seperti yang kita kenal saat ini.

Tidak Ada Perayaan (‘Ied) yang Dirayakan oleh Kaum Muslim Selain Dua Hari Raya

Jika umat Islam merayakan tahun baru, itu sama artinya mereka merayakan perayaan atau ‘ied yang tidak ada di dalam Islam. Umat Islam hanya memiliki dua perayaan, yaitu Idulfitri dan Iduladha.

Tapi, rupanya umat Islam tidak hanya merayakan dua Hari Raya itu, melainkan merayakan tahun baru untuk meniru orang kafir. Dan ini tidak sedikit kita temukan sekarang. Begitu banyak orang Islam yang ikut menghabiskan malam pergantian tahun masehi tanpa mengetahui seperti apa hukumnya atau tidak mau mencari tahu hukumnya.

Meskipun hanya sekadar bersenang-senang dan berkumpul, tetapi perayaan itu tetap sama hukumnya. Tidak peduli apakah itu merupakan perayaan berupa ibadah atau hanya sekadar meniru kebiasaan orang kafir.

Melakukan Amalan Tanpa Dalil Demi Menghabiskan Malam Tahun Baru

Pernahkan kamu mendengar, jika ada sebagian orang memilih menghabiskan malam pergantian tahun dengan melakukan banyak amalan seperti dzikir? Ya, meskipun itu termasuk amalan baik, tetapi pensyariatan seperti ini dilakukan tanpa adanya tuntunan. Kita sudah tahu, jika perayaan tahun baru bukan merupakan perayaan umat Islam. Niat baik saja tidak cukup, Dears, kita juga harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw supaya amalan kita diterima.

Melakukan Perkara Haram dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Tidak hanya sekadar asyik-asyik, mengucapkan selamat tahun baru bisa menjerumuskan kamu ke dalam perkara yang diharamkan. Sebab perayaan tahun baru merupakan syiar orang kafir, bukan milik orang Islam. Sekadar bicara pun tidak boleh? Ya, karena itu berhubungan dengan akidah, bukan hanya sekadar ucapan biasa.

Demi Merayakan Tahun Baru, Banyak Umat Islam Meninggalkan Kewajiban

Begadang untuk menikmati malam pergantian tahun adalah hal lumrah. Tak sedikit dari kita yang melakukannya. Bahkan mereka dengan santainya begadang hingga menjelang Shubuh. Sayangnya, kurang tidur dan kelelahan membuat banyak orang terlelap dan melewatkan waktu Shubuh.

Meninggalkan salat Shubuh merupakan perkara berat, Dears. Bahkan termasuk dosa besar, dan dosanya melebihi dosa membunuh. Selain itu, waktu salat malam pun dilewatkan begitu saja. Padahal, waktu salat malam termasuk salah satu waktu yang utama dan paling disukai oleh orang-orang shalih setelah salat 5 waktu.

Begadang Tanpa Ada Keperluan Berarti

Ngapain di malam tahun baru? Makan jagung bakar, ikar bakar, dan bersenda gurau? Betapa tidak ada gunanya begadang hingga larut malam hanya demi sesuatu yang tidak ada faedahnya.

Rasulullah saw tidak suka begadang sebab beliau takut melewatkan bangun untuk salat malam. Bayangkan saja, Rasulullah saw saja enggan begadang, lalu untuk apa kita yang penuh dengan dosa ini melakukannya tanpa alasan jelas?

Melakukan Pemborosan dan Meniru Kelakuan Setan

“Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Qs. Al Isro’: 26-27).

Kamu bisa bayangkan, Dears? Untuk merayakan malam pergantian tahun masehi, tidak hanya dibutuhkan uang untuk membeli makan-makan bersama, tetapi juga keperluan lainnya seperti membeli petasan atau kembang api. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang dihabiskan oleh semua orang yang merayakan malam pergantian tahun, yang saat ini ternyata tidak terbatas hanya orang kafir saja, tetapi juga umat Islam sendiri.

Selain itu, malam pergantian tahun juga lekat sekali dengan khalwat. Berbaur dengan lawan jenis bisa menjerumuskan pula pada perbuatan zina yang sangat terlarang.

Ternyata banyak sekali kerusakan yang ditimbulkan saat merayakan malam pergantian tahun. Tahun baru masehi tinggal menghitung hari. Haruskah kamu seorang muslimah ikut merayakannya juga atau meninggalkannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *