Anak Sensitif Bukan Masalah Lagi, Dears! Ini 5 Cara Efektif Mengatasinya

Anak sensitif adalah anak yang hatinya mudah tersentuh. Dia akan dengan mudah menolong karena terenyuh. Mudah marah, tersinggung, dan bahagia, tetapi mudah pula menangis karena hal-hal kecil.

Anak sensitif tidak selalu anak pemalu atau pendiam, lho, Dears. Mereka umumnya tidak hanya sensitif secara emosional, tetapi seluruh indranya pun demikian. Suara gaduh, cahaya yang terlalu terang, atau hawa yang sangat panas, bisa membuatnya bereaksi karena tidak nyaman.

Lalu, bagaimana caranya menghadapi anak sensitif? Ikuti terus, yuk, pembahasannya!

1. Anggap Sensitifnya adalah Sesuatu yang Positif

Anak yang sensitif tidak dapat diubah menjadi tidak sensitif atau cuek. Orang tua harus menerima dirinya apa adanya, karena yang paling mungkin dilakukan adalah membuat sensitivitasnya itu bermanfaat atau menjadi kelebihannya. Kelebihan anak sensitif adalah:

– tidak suka terlibat konflik
– rasa empati tinggi
– cepat tanggap
– peka dan peduli
– suka berpikir mendalam

Sederet kelebihan di atas tidak dapat diabaikan begitu saja. Orang tua harus tanggap dengan kelebihan anak sensitif seperti di atas dan menindaklanjuti secara proporsional.

2. Konsisten Menerapkan Aturan

Jangan karena dirinya “berbeda” membuat orang tua tidak konsisten menerapkan aturan. Ngambek, mogok, marah, atau cemberutnya tidak perlu dijadikan alasan melonggarkan aturan. Lebih baik memberinya batasan, tetapi terus konsisten menerapkannya.

3. Hargai Sekecil Apapun Usahanya

Anak yang sensitif mudah sedih bila tidak mampu mencapai apa yang diinginkan. Menghargai usahanya dengan dorongan semangat, pujian tulus, dan pendampingan dapat membuatnya berhasil melakukan sesuatu.

4. Ajarkan Memecahkan Masalah

Mengajarkan anak memecahkan masalah membuatnya mandiri dan percaya diri. Anak sensitif terlalu menggunakan perasaannya dalam berpikir. Bila terbiasa memecahkan masalah, akan membuatnya mampu mengatasi perasaannya yang mudah tidak nyaman.

5. Menunjukkan Cara Berekspresi yang Benar

Pada fase awal, anak mungkin belum paham bahwa caranya berekspresi keliru dan menyulitkan orang lain. Seiring bertambahnya usia, anak harus sudah mampu mengetahui cara berekspresi dan menunjukkan perasaan dengan cara yang wajar. Mereka juga harus belajar cara yang tepat mengatasi perasaannya.

Sifat sensitif sebetulnya dimiliki setiap anak, ya, Dears. Hanya saja, ukurannya berbeda-beda, tergantung peran orang tua, kondisi hati, dan pengaruh lingkungan. Semakin bertambahnya usia, seseorang biasanya akan semakin bijak mengelola perasaan sensitifnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *