7+ Kata Ajaib Pembentuk Karakter Positif pada Anak

Dears, pada usia 2-3 tahun anak mulai mengenal lingkungannya. Mereka mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Momen ini dapat kita manfaatkan untuk menanamkan karakter positif pada anak.

Tahukah kamu, ternyata banyak hal kecil yang tidak kita sadari mampu membentuk karakter anak, misalnya, mengucap salam, terima kasih, meminta maaf dan sebagainya. Inilah delapan kata ajaib pembentuk karakter positif pada anak. Simak ulasan berikut sampai tuntas, ya, Dears!

1. Salam

Bagi kamu yang Muslim, kita disunahkan mengucapkan salam ketika bertemu dengan sesama muslim. Bagi yang mendengar, wajib menjawabnya. Mengucap salam merupakan bentuk penghormatan dan doa. Doa untuk keamanan dan keselamatan. Dalam keluarga kita bisa membiasakan mengucap salam ketika hendak ke luar rumah atau ketika pulang. Hal ini terlihat sepele tetapi dampaknya luar biasa pada perkembangan karakter anak. Ucapan salam ini dapat membentuk jiwa penuh kedamaian pada anak.

2. Zikir

Zikir adalah aktivitas ibadah umat Muslim untuk mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan. Di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah SWT. Zikir adalah satu kewajiban yang tercantum dalam Alquran. Secara tidak langsung, zikir menghubungkan pengucapnya dengan Yang Maha Kuasa. Kita bisa membiasakannya dalam aktivitas sehari-hari si buah hati, misalnya:

” Alhamdulillah, adek sudah bisa makan sendiri”
“Subhanallah, bagus sekali gambar kakak”
“Masyaallah, bagaimana kejadiaannya, Kak?”

Ucapan zikir yang kita ucapkan secara tidak langsung menambah kosa kata anak. Pada akhirnya mereka akan terbiasa mengucapkannya. Kebiasaan mengucapkan zikir dapat membentuk karakter takwa pada diri anak. Anak akan merasa dekat dengan Allah SWT.

3. Tolong

Mengucapkan kata ‘tolong’ untuk sebagian orang bukanlah hal yang mudah. Kita bisa membiasakan ini dalam dialog sehari-hari. Kata “tolong” bisa kita gunakan ketika memerintah anak untuk melakukan sesuatu, misalnya:

Kak, tolong ambilkan sisir di meja rias”
“Tolong bukakan pintu depan”
“Tolong kerjakan PR dengan sungguh-sungguh”

Kebiasaan mengucapkan kata ‘tolong’ akan menumbuhkan karakter rendah hati dan tidak sombong.

4. Terima Kasih

Ucapan terima kasih lazim diucapkan setelah mendapatkan sesuatu, baik yang bersifat materi atau pun tidak. Kita bisa ucapkan terima kasih pada anak, sekecil apa pun bantuan yang mereka berikan, misalnya:

“Terima kasih, Kak, sudah bantu merapikan mainan”
“Lezat sekali kuenya. Terima kasih sayang.”

Kebiasaan mengucapkan kata “terima kasih” dapat membentuk karakter menghargai orang lain dan menumbuhkan jiwa besar pada anak.

5. Maaf

Permintaan maaf lazim kita ucapkan ketika melakukan kesalahan, dengan diikuti perubahan sikap dan perjanjian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membiasakan anak mengucapkan maaf menumbuhkan sikap empati dan kasih sayang. Kita bisa memulai dari diri sendiri, misalnya:
“Maaf, Mama lupa mengabarkan kalau hari ini pulang terlambat.”
“Adek, maaf ya. Bekalnya tertinggal di meja.”
“Maaf, sayang. Seharian ini mama marah-marah terus.”

6. Iya/Baik

Kata ‘iya/baik’ merupakan bentuk respon yang paling sederhana terhadap pembicara. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter peduli dan menghargai.

7. Izin/Permisi

Minta izin ketika hendak melakukan sesuatu atau hendak bepergian dapat melatih karakter tertib pada anak, contohnya:

“Adik, mama mau belanja ke warung sebelah”
“Mama berangkat kerja dulu, Dek”

Biasakan anak untuk meminta izin. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter tertib tidak semaunya sendiri.

8. Bisa

Anak-anak sering mengatakan “tidak bisa” ketika mereka diminta untuk melakukan suatu hal. Kita dapat menunjukkan cara praktis pada mereka dan mengatakan bahwa mereka bisa. Minta anak mengatakan “Aku bisa!”. Kata ajaib ke delapan ini membentuk karakter positif dan rasa percaya diri.

Delapan kata ajaib di atas tidak berarti apabila kamu tidak membiasakannya pada si kecil. Kebiasaan ini tentu diawali dari diri kita sendiri karena anak-anak masih dalam tahap meniru dan mulai mengeksplorasi. Ingat, Dears, orang tua adalah tempat belajar anak yang pertama. Keluarga adalah lingkungan sosial pertama buat mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *