Tahukah Kamu? Ini 6 Jenis Obat yang Tidak Boleh Dikonsumsi Ibu Hamil dan Menyusui

Kondisi seorang wanita saat hamil maupun menyusui memiliki treatment sendiri saat pengobatan, karena dikhawatirkan pengobatan yang dilakukan berdampak pada bayi di dalam kandungan maupun setelah dilahirkan.

Pemberian obat pada kedua kondisi wanita tersebut haruslah memiliki tujuan pengobatan yang jelas. Paling tidak sudah dikonsultasikan pada dokter kandungan dan dokter anak mengenai pengaruh yang ditimbulkan saat penggunaan obat.

Obat memang bertujuan untuk menyembuhkan suatu penyakit yang dialami seseorang. Namun, ada efek yang akan ditimbulkan pada wanita hamil dan menyusui saat menggunakan beberapa jenis obat, dikarenakan kandungan zat yang terdapat dalam obat mampu berinteraksi dengan plasenta yang bertindak sebagai perantara nutrisi dari ibu ke bayi, maupun berdampak pada produk ASI pada ibu menyusui.

Nah, hal ini perlu diperhatikan agar tidak asal-asalan menggunakan obat saat hamil maupun menyusui. Di antara obat-obatan yang dapat berdampak pada ibu hami dan menyusui akan dibahas berikut ini.

1. Captopril dan Sejenisnya, Obat Hipertensi

Captopril merupakan salah satu golongan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi. Wanita hamil maupun menyusui yang memiliki riwayat hipertensi sangat tidak dianjurkan untuk menerima jenis obat ini. Kelompok obat yang masih satu golongan dengan captopril ini contohnya enalapril, lisinopril, ramipril dan obat-obatan yang berakhiran –pril.

Alasan obat ini tidak boleh digunakan bagi ibu hamil karena bisa mengakibatkan gangguan ginjal dan terdapat masalah di bagian kepala janin, sehingga berdampak pada pertumbuhannya, baik di dalam kandungan maupun saat dilahirkan.

Jika pasien adalah seorang ibu hamil dan memiliki riwayat penyakit hipertensi, akan direkomendasikan obat lain yang lebih aman. Biasanya dokter akan menyarankan untuk perubahan gaya hidup terlebih dahulu, karena mengingat penyakit hipertensi sangat riskan jika dialami oleh wanita yang sedang hamil.

2. Misoprostol Obat Tukak Lambung

Memiliki penyakit maupun riwayat penyakit yang tiba-tiba kambuh saat hamil maupun menyusui haruslah dipahami sejak awal. Pengobatan yang tidak tepat bisa mengakibatkan bayi cacat, hingga tidak bisa diselamatkan.

Seperti halnya penggunaan obat misoprostol ini untuk mengobati tukak lambung dan tukak akibat penggunaan obat nyeri golongan OAINS. Kontraindikasi obat ini pada wanita hamil berdampak pada bayi yang mengalami kecacatan. Selain itu, obat ini juga bisa berdampak pada kondisi nyawa bayi, seperti melakukan aborsi. Maka jika ingin menggunakan obat ini untuk mengobati lambung sebaiknya kehamilan tidak dilanjutkan agar tidak memiliki efek pada bayi saat mengonsumsi obat ini. Bahkan, karena efek sampingnya terhadap bayi, obat ini digunakan untuk orang yang ingin melakukan aborsi.

Ibu menyusui yang menggunakan misoprostol ini juga akan berdampak pada bayi. Dampak yang ditimbulkan dapat menyebabkan diare yang cukup serius pada bayi.

3. Obat Nyeri Golongan OAINS

 

Siapa yang tidak pernah menggunakan obat jenis satu ini? Hampir semua keluhan awal suatu penyakit diawali dengan rasa nyeri, dan hampir semuanya meresepkan atau memberikan obat golongan OAINS. OAINS merupakan kepanjangan dari Obat Anti-Inflamasi Non Steroid, salah satu golongan obat antinyeri yang memiliki keefektifan lebih baik dibanding parasetamol, karena parasetamol lebih banyak digunakan sebagai obat demam. Contoh dari obat ini seperti ibuprofen, asam mefenamat, diklofenak, naproksen dan indometasin.

Nah, meski bisa dikatakan laris di pasaran, tetapi obat tersebut memiliki efek yang cukup banyak. Di antara efeknya, yaitu sangat rentan mengikis mukosa lambung, sehingga menyebabkan nyeri di ulu hati. Oleh karenanya, yang memiliki riwayat penyakit lambung juga menggunakan obat mag untuk melapisi mukosa lambung.

Selain memiliki efek bagi penderita lambung, juga berefek bagi wanita yang sedang hamil. Dikutip dari Alomedika.com, pada penggunaan trimester pertama dapat mengakibatkan penutupan premature duktus arteriosus janin dan hipertensi pulmonal persisten. Sedangkan jika digunakan pada trimester ketiga memengaruhi kondisi ginjal dan jalur urin pada janin.

Melihat banyaknya efek samping yang ditimbulkan, ibu hamil lebih disarankan menggunakan parasetamol untuk pengobatan antinyeri, karena tidak memiliki efek yang merugikan bagi janin maupun ibu hamil itu sendiri.

4. Obat Antibiotik

Obat yang cukup sering diresepkan oleh dokter maupun diberikan oleh apoteker ketika ada pasien yang datang ke apotek selain antinyeri adalah antibiotik. Penggunaan antibiotik pada orang dewasa yang tidak tepat mengakibatkan banyak efek untuk tubuh. Di antara efeknya, dapat membuat infeksi kebal sehingga sulit diobati dengan antibiotik lini pertama. Selain itu juga kesulitan untuk mencari antibiotik pengganti yang sesuai dengan kondisi penyakit.

Untuk penggunaan pada ibu hamil juga memiliki risiko yang berbeda tergantung dari jenis antibiotiknya, seperti tetracyclin yang berefek pada gigi dan tulang pada bayi, kloramfenikol yang digunakan pada ibu menyusui mengakibatkan toksisitas sumsum tulang belakang pada bayi, klindamisin yang mengakibatkan pendarahan lambung pada bayi jika digunakan oleh ibu menyusui.

Kebanyakan antibiotik tidak direkomendasikan untuk ibu hamil maupun ibu menyusui. Hanya golongan penisilin seperti amoksisilin yang lebih aman digunakan untuk ibu hamil dan ibu menyusui. Meskipun begitu, tetap harus dikonsultasikan dengan dokter, ya Dears, karena penggunaan dalam jangka waktu yang lama juga dapat menimbulkan efek bagi tubuh.

5. Cimetidine Obat Lambung

 

Sama halnya dengan obat misoprostol yang digunakan pada pengobatan lambung, cimetidine ini juga untuk pengobatan lambung. Keduanya sama untuk mengobati tukak lambung, namun untuk obat ini tidak mampu digunakan sebagai pengobatan tukak akibat penggunaan obat OAINS, tetapi digunakan untuk refluks esophagitis dan sindroma Zollinger Ellison.

Kontraindikasi tidak hanya pada ibu hamil saja, tetapi juga berdampak pada ibu menyusui. Efek pada bayi jika ibu menggunakan obat ini adalah menekan asam lambung si bayi dan menghambat proses metabolisme, serta berpengaruh pada sistem saraf pusat, seperti otak pada bayi.

6. Kontrasepsi Oral

Penggunaan kontrasepsi untuk menekan kehamilan berikutnya, terutama pada kondisi ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya harus selalu dikonsultasikan dengan dokter, mengingat ada dampak yang akan ditimbulkan jika penggunaan sembarangan tanpa arahan dari dokter. Seperti kontrasepsi oral pil bisa berdampak pada penurunan berat badan bayi jika pil mengandung estrogen. Namun tidak memberikan efek yang signifikan pada pil yang hanya mengandung progestin.

Nah, itulah beberapa obat yang harus diperhatikan dengan jelas jika akan digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Masih banyak obat-obatan yang memiliki kontraindikasi terhadap ibu hamil maupun ibu menyusui.

Jangan lupa, selalu konsultasi dan meminta saran kepada dokter ketika menggunakan obat selama kehamilan dan menyusui agar terhindar dari kecacatan dan penyakit bawaan akibat obat yang dikonsumsi.

 

Sumber : MMN Basic Pharmacology & Drug Notes Edisi 2019

 

*Artikel merupakan kiriman dari kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *