5 Tips Sederhana Agar Konflik Pernikahan Berakhir Bahagia

Siapa yang tidak pernah berselisih dengan pasangan? Sepertinya nyaris tidak mungkin ya, Dears. Dua manusia dengan latar belakang yang berbeda, dipersatukan dalam satu ikatan yang menjadikan keduanya hidup bersama. Tentu banyak sekali dinamika dan konflik yang dijumpai dan perlu penyesuaian di sana sini.

Tapi, banyak dinamika bukan berarti tidak bisa bahagia. Hakikat bahagia itu sejatinya adalah tentang persepsi dan di sisi lain persepsi itu erat kaitannya dengan emosi. Saat emosi seseorang baik, ia akan berpikir jernih dalam menyelesaikan konflik. Sebaliknya, saat emosi itu buruk, yang terpikir hanyalah jalan pintas untuk menyelamatkan ego semata.

Jika kamu sedang atau pernah mengalami hal ini, yuk, lakukan 5 hal berikut agar konflik dengan pasanganmu berujung happy ending!

Mengertilah Bahwa Wanita dan Pria Diciptakan Berbeda

Dears, wanita dan pria tidak sama secara fisiologis dan psikologis. Hal ini tampak pada kebiasaan sehari-hari yang bisa kamu temukan pada diri pasangan. Adalah hal wajar jika pria sulit menemukan apa yang dicarinya di lemari, tapi justru sangat jeli ketika melihat wanita cantik. Adalah hal biasa ketika pasangan lebih irit bicara dan kurang mengekspresikan perhatian. Jangan kesal jika pasangan kurang berempati dan lebih fokus pada solusi. Jangan marah ketika dia melupakan hal-hal detil yang itu penting bagimu. Demikianlah makhluk bernama pria diciptakan, Dears. Bisa jadi ia tidak memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukannya. Tapi bukan berarti ia tidak mencintaimu dan rela berkorban untukmu.

Genggam Erat Visi Rumah Tangga

Visi pernikahan bukan semata untuk mencari keturunan. Pernikahan itu menyempurnakan agama, Dears. Sedangkan agama adalah rahmat untuk segala hal di sekitar kita. Jika pernikahan belum memiliki fondasi yang kuat, maka konflik sederhana saja bisa meruntuhkan bangunan pernikahan. Maka, apapun bentuk konflik antara dirimu dengan pasangan, kembalilah kepada visi ini. Bahwa kalian bersatu dengan segala perbedaan adalah untuk saling melengkapi dalam harmoni untuk menjadi rahmat bagi semua. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan dan persamaan bukan jaminan keselarasan. Berbekal visi rumah tangga ini, tidak ada kata menyerah untuk terus mengenal dan memahami pasangan.

Hilangkan “Aku”, Ganti dengan “Kita”

Pemicu utama konflik dengan pasangan adalah “ke-aku-an”. Aku sudah melakukan ini dan itu. Aku berkorban banyak hal. Aku pikir, aku rasa, aku lihat, dan deretan kalimat “ke-aku-an” lainnya. Egosentris yang menjadi pemicu konflik dari dalam diri akan semakin menyulut api konflik jika pasangan juga berbuat dan berpikir yang serupa. Dears, percayalah, jika kamu berhenti berpikir tentang dirimu, tentang segala apa yang sudah kamu lakukan dan korbankan, konflik dengan pasangan akan terhindarkan. Jika kamu dan pasangan berkomitmen mengubah kata “aku” menjadi “kita”, masalah yang ada di hadapan mata akan kalian selesaikan dengan mendiskusikan solusi. Bukan saling tarik urat, sumpah serapah, apalagi kekerasan. No!

Berikan Pengakuan yang Diinginkan Pasangan

Setiap orang pada hakikatnya butuh pengakuan. Maka penuhi dahulu hal itu sebelum kamu menuntut pengertian. Akuilah kerelaan pasangan menerimamu apa adanya sejak awal kalian menikah. Akuilah pengorbanan pasangan yang tiada lelah mencari nafkah. Akuilah upayanya meluangkan waktu untuk anak-anak di antara lelahnya sepulang bekerja. Pun jika pasanganmu kenyataannya tidak se-ideal itu, tetap berikan pengakuan sebagai bentuk pujian atas apa saja yang sudah dilakukannya. Hal sederhana sekalipun. Ucapan itu doa kan, Dears? Ketika kamu memberinya pengakuan sebelum menuntut pengertian, yakinlah pasangan akan lebih mudah menerima jalan pikiranmu tanpa penolakan.

Terbukalah untuk Mendapat Pengertian

Mengertilah agar dimengerti. Saat kamu mengerti perbedaanmu dengan pasangan dalam hal komunikasi, kamu akan menemukan fakta bahwa pasangan lebih memahami maksud dari sesuatu yang verbal. Jika pengertian yang kamu harapkan kamu ungkapkan secara non verbal, pasangan hanya akan menerka-nerka apa yang kamu mau. So, belajarlah berbicara secara lugas dengan intonasi dan pilihan kata yang tepat. Jangan menggugat jika pasangan tidak menangkap sinyal-sinyal yang kamu kirimkan ya, Dears. Se-introver apapun dirimu, keterampilan bicara bisa dipelajari. Jika masih sulit mengungkapkan pikiran secara langsung, kamu bisa mencoba mengirim pesan lewat messenger atau email. Lebih baik terbuka daripada berprasangka, bukan?

Dears, tiap kali berkonflik dengan pasangan, cobalah berpikir tentang membangun imunitas pernikahan kalian. Anggaplah riak-riak kecil ataupun besar selama mengarungi bahtera rumah tangga sebagai virus yang harus kalian lawan dengan menciptakan antibodi dari dalam diri kalian berdua. Menjaga imunitas itu penting, bahkan lebih penting dari melawan virus itu sendiri. Pernikahan yang imun, akan kuat menghadapi segala masalah yang datang. Konflik dengan pasangan? Siapa bilang endingnya gak bisa bahagia? Happy ending ever after, ya, Dears!

One thought on “5 Tips Sederhana Agar Konflik Pernikahan Berakhir Bahagia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *