Di Balik Hari Raya Iduladha, Ini 5 Pelajaran Berharga dari Kisah Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Alhamdulillah, kita telah berada di salah satu bulan istimewa, yakni bulan Zulhijjah ya, Dears. Pada bulan ini terkumpul dua keistimewaan, yakni Hari Raya Iduladha dan pelajaran berharga dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Pada bulan Zulhijjah inilah terdapat beberapa kegiatan sebagai salah satu bentuk pelestarian ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Apa sajakah itu? Pelaksanaan haji, menyembelih kurban, sai antara bukit shafa dan marwah, melempar jumrah, dan sebagainya.

Allah Ta’ala telah memuliakan Nabi Ibrahim karena beliau ‘alaihissalam telah melakukan segala amalannya ikhlas karena Allah semata.

Lalu, apa saja pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga ajarannya bisa kita rasakan sampai sekarang?

1. Meminta Keturunan yang Saleh

Nabi Ibrahim dan sang istri, Sarah, telah lama merindukan kehadiran buah hati di tengah-tengah keluarga mereka. Saat itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak pernah berputus asa dalam berdoa kepada Allah.

Doa Nabi Ibrahim tertuang dalam QS. Ash-Shaffat ayat 100:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih…”

Hikmah apa yang bisa kita ambil? Ketahuilah Dears, bahwa hendaknya kita meminta kepada Allah anak-anak yang saleh karena yang demikian itu termasuk salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya.

2. Sabar ketika Diberi Ujian

Setelah Nabi Ismail beranjak dewasa, sang ayah pun mengutarakan mimpinya. Di dalam mimpinya tersebut, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam melihat dirinya menyembelih Ismail.

Lalu apa yang dikatakan Ismail kepada sang ayah? Apakah ia marah?

Di luar dugaan, beginilah jawaban sang anak:

“Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Masya Allah! Sungguh sebuah jawaban yang luar biasa. Sang anak yang menggantungkan segala urusannya kepada Allah. Dan sang ayah yang meski ia tahu bahwa Ismail adalah anak yang ia nantikan sekian lama, cintanya kepada Ismail tak menghalanginya untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Lihatlah bapak dan anak ini, Dears, betapa mereka bersabar di atas segala ujian.

3. Berkomunikasi dengan Baik

Ketika Nabi Ibrahim berdiskusi dengan sang putra Ismail perihal mimpinya, ini menunjukkan bagaimana seharusnya hubungan orang tua dan anak terjalin. Orang tua sebaiknya senantiasa menanyakan pendapat anak tentang suatu permasalahan yang berkaitan dengan sang anak.

Berkomunikasi dengan anak (tentunya dengan cara yang baik) tentang perintah dan larangan Allah merupakan salah satu cara mendidik anak. Tujuannya tentu saja, agar sang anak memahami apa saja hak-hak Allah yang harus ia tunaikan.

4. Menyerahkan Segala Urusan kepada Allah Ta’ala

Sebagaimana kita tahu bahwa Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tak bertuan. Hajar pun terus bertanya mengapa Ibrahim meninggalkannya. Sampai akhirnya, Hajar bertanya kepada suaminya, “Apakah Allah memerintahkanmu tentang hal ini?”

Apa jawaban Nabi Ibrahim?

Tanpa menoleh ke arah Hajar, beliau menjawab dengan isyarat, “Ya.”

Bagaimana reaksi Hajar? Marahkah ia?

Hajar pun berkata, “Kalau begitu, niscaya Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Lihatlah, inilah jawaban seorang Mukminah. Ia percaya bahwa Allah tidak akan menelantarkan ia dan bayinya. Ia menyerahkan segala urusannya kepada Allah Azza wa Jalla. Begitulah seharusnya seorang Muslimah di zaman sekarang, taat kepada Allah dan Rasulnya tanpa perlu dipertanyakan lagi.

5. Menaati Suami

Pada kisah bagaimana Hajar ditinggalkan di lembah tak bertuan, ia pun menaati suaminya. Ia tidak marah, apalagi ngedumel, sesuatu yang mungkin akan kita lakukan tatkala mengetahui suami kita tega meninggalkan kita. Hajar tidak membantah sang suami karena ia tahu suaminya berbuat demikian untuk meraih rida Allah. Hajar yakin dan percaya bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya yang beriman.

Demikianlah seharusnya seorang Muslimah di zaman sekarang. Seorang Muslimah hendaknya selalu berusaha membuat Allah rida kepadanya, yakni dengan menutup aurat secara sempurna dan menaati suami selama bukan masalah kemaksiatan.

Dears, itu dia sepenggal pelajaran berharga dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya. Sudah sepantasnya kita meneladani mereka, karena di dalamnya terdapat pengajaran, bagaimana seharusnya suami istri bersikap ketika ditimpa ujian, bagaimana ayah berkomunikasi dengan sang anak, bagaimana sikap seorang anak kepada orang tua dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, dan bagaimana sikap seorang Mukminah terhadap suaminya.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, ya, Dears. Teruslah menjadi muslimah yang istiqomah di jalan Allah.

Selamat Hari Raya Iduladha 1440 H.

 

*Seluruh artikel yang diterbitkan Estrilook beserta isinya menjadi tanggung jawab pihak kontributor sepenuhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *