5 Mitos Zat Kimia Produk Kecantikan yang Dianggap Berbahaya

Cantik itu investasi. Butuh waktu dan perawatan rutin biar kulitmu cantik, salah satunya dengan menerapkan rutinitas perawatan menggunakan skin care. Tapi kamu harus berhati-hati, Dears, karena saat ini banyak bahan kandungan dalam skin care yang berbahaya bagi kulitmu.

Alih-alih bikin kulitmu cantik, adanya kandungan kimiawi tersebut justru berisiko buruk terhadap kecantikan kulit wajah, bahkan berpengaruh terhadap kesehatanmu. Namun, tentu saja kita tak bisa langsung menilai sesuatu itu buruk, bukan? Pasti ada penjelasannya.

Berikut 5 mitos zat kimia untuk produk kecantikan yang katanya berbahaya, tetapi ada penjelasan ilmiahnya. Diharapkan kamu bisa lebih teliti lagi ya, Dears, dalam melihat komposisi produk sebelum membelinya sebagai perawatan yang tepat untuk kulit wajahmu, dan lebih bijak dalam menyikapi bahan tersebut jika ada dalam list favorit skin care-mu!

1. Paraben

Foto: Pexels

Sekarang lagi gencar-gencarnya strategi penjualan kosmetik dan skin care yang melabeli diri mereka sebagai “tanpa paraben”. Memangnya enggak boleh, gitu, ada paparan paraben di produk yang kita gunakan? Paraben yang digunakan sebagai pengawet ini sudah menimbulkan kontroversi sejak 1990-an dengan rumor bahwa paraben memicu ketidakstabilan hormon sehingga berpotensi menyebabkan kanker bagi penggunanya. Belum lagi ada penelitian di tahun 2004 yang menemukan adanya paraben di tiap jaringan epitel 19 wanita dari 20 wanita pengidap kanker payudara.

Namun, penelitian tersebut disanggah karena peneliti tidak meneliti juga apakah ada kandungan paraben di tiap jaringan epitel pada wanita yang normal-normal saja. Akhirnya pada tahun 2005, Cosmetic Ingredient Review meneliti lagi dampak paraben pada kesehatan dan menyimpulkan bahwa dosis paraben yang sedikit masih dapat ditolerir bagi tubuh.

Kalau kamu tak paham paraben itu seperti apa, coba cek komposisi produk yang kamu pakai dan jika menemukan bahan berakhiran “-paraben” seperti methylparaben, propylparaben, butylparaben, dan lain-lain yang berakhiran paraben itulah yang disebut sebagai paraben.

Kesimpulannya, paraben dalam produk jika dosisnya kecil masih dapat digunakan. Lagi pula tiap produk yang lulus uji BPOM pasti sudah dipertimbangkan apakah produk tersebut aman atau tidak.

2. Sodium Lauryl Sulfate

Foto: Pexels

 

Sodium Lauryl Sulfate enggak bisa disebut bahaya banget, sih. Sebutlah enggak cocok sebagai bahan pencuci muka. Jika kamu melihat pada komposisi produk personal care (sampo, pasta gigi, pencuci wajah, dll) dan menemukan Sodium Lauryl Sulfate, sebenernya tak masalah, asal berhati-hati.

Sodium Lauryl Sulfate inilah yang bikin produk personal care-mu berbusa (foamy). Namun perlu diketahui juga, ternyata Sodium Lauryl Sulfate punya sifat sebagai skin irritant. Efeknya yaitu bikin perih, makanya kamu harus berhati-hati.

Efek lebih berbahayanya lagi akan muncul sesuai dosis Sodium Lauryl Sulfate pada produk. Tapi semakin berbusa suatu produk berarti semakin banyak dosis Sodium Lauryl Sulfate-nya. Perlu kamu ketahui juga bahwa Sodium Lauryl Sulfate punya sifat “mengeringkan” minyak alami pada wajah. Efek yang terjadi pada wajah saat minyak alaminya dikuras habis justru menjadikan produksi minyak di wajah menjadi lebih banyak.

3. Bismuth Oxychloride

Foto: Pexels

Bismuth Oxychloride biasa ditemukan di produk-produk makeup karena zat ini berguna banget untuk riasan wajah, di antaranya memberikan kesan lembut saat diaplikasikan, mudah blending, menyamarkan skin tone yang tidak merata, dan memberikan kesan glowing ke muka.

Mengetahui keuntungannya yang brilian, enggak perlu sedih karena Bismuth Oxychloride masih aman, kok, digunakan selama dosisnya rendah. Namun perlu diketahui bahwa penggunaan Bismuth Oxychloride dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kulit iritasi, kemerahan, bahkan jerawatan.

4. Triclosan

Foto: Pexels

Sebenarnya isu mengenai triclosan yang berbahaya ini masih abu-abu. FDA sendiri belum bisa mengambil sikap sehingga aturannya untuk produk personal care yang akan diproduksi harus melalui uji pasar dulu.

Triclosan sebenarnya berguna untuk menjaga produk aman dari kontaminasi bakteri. Hal yang menjadi perdebatan adalah, studi pada hewan menunjukkan bahwa triclosan dapat menurunkan hormon tiroid, walau studi ini belum dapat dipastikan keefektifannya jika pada manusia.

Triclosan pun disebut jutsru membuat tingkat resistensi bakteri meningkat. Ada baiknya, lagi-lagi, untuk menggunakan triclosan dengan dosis yang minimum, mengingat bakteri akan menjadi lebih kuat dengan penggunaan triclosan ini.

5. Diazolidinyl Urea (Formaldehyde)

Foto: Pexels

Beberapa produsen produk personal care menggunakan Diazolidinyl Urea sebagai pengawet agar produk aman dari kontaminasi bakteri. Hal yang menjadi kontroversi, yaitu, Diazolidinyl Urea ini melepas formaldehyde dimana formaldehyde sudah dikategorikan sebagai zat karsinogen golongan satu oleh World Health Organization International Agency for Research on Cancer.

Namun berita baiknya, The Cosmetic Ingredient Review Expert Panel menyatakan bahwa Diazolidinyl Urea masih aman digunakan jika dosis yang digunakan dibawah 0,5%. Ada baiknya jika Diazolidinyl Urea sebaiknya dihindari sebab jika pun dosis yang digunakan kecil, Diazolidinyl Urea juga dapat menyebabkan alergi.

Lagi-lagi, kejelian konsumen dalam melihat komposisi produk memang dibutuhkan. Memang bisa menyebabkan kebingungan juga, ya. Tapi jika demi keselamatan dan keuntungan, kenapa enggak, Dears?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *