5 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Jika Kamu Menjadi Teman Curhat

Dears, semua orang pasti pernah menceritakan masalahnya pada orang lain. Itulah pentingnya memiliki teman bercerita atau curhat, baik untuk dimintai saran atau sekadar meringankan beban di hati. Topik yang diceritakan pun berbeda-beda. Mulai dari hal yang umum, sampai pada yang bersifat pribadi dan rahasia.

Sayangnya, tidak semua orang bisa menemukan pendengar yang baik. Ada yang setelah bercerita, justru semakin down. Ada yang malah sampai merasa ‘salah pilih teman curhat’. Tidak mau, kan, kalau teman kita sampai merasa seperti itu, Dears? Simak, yuk, apa saja yang tidak boleh dilakukan kalau sedang mendengarkan cerita orang lain.

 

1. Menyalahkan

Foto: positivechoices.org.au

 

Tahu, kan, bagaimana rasanya sudah jatuh tertimpa tangga? Double sakitnya. Hal ini juga berlaku untuk yang sedang curhat. Misalnya, ada yang bercerita baru saja diomeli karena berbuat salah. Terkadang, kita juga malah ikut menyalahkan tanpa melihat situasinya. Teman yang sedang kesal, kena marah, kemudian berbagi cerita untuk meringankan perasaan, eh, kena marah lagi. Jadi makin kesal, bukan?

 

2. Tidak Serius Mendengarkan

Foto: pixabay.com

 

Pendengar yang baik akan memperhatikan lawan bicaranya bercerita. Orang yang menceritakan masalahnya berarti sedang serius. Namun, kalau yang diajak bicara responnya cuma: “Hmm…”, “Terus?”, dan “Ooohh…”, jadi gemas juga, bukan? Hadirkan fisik dan hati kita saat mendengarkan orang lain berkeluh kesah. Sebab, mereka butuh perhatian di saat itu. Kecuali, jika kita memang sedang sibuk bekerja dan teman memaksa untuk bercerita. Katakan secara jujur bahwa kita belum bisa fokus mendengar ceritanya.

 

3. Menceritakan Pengalaman Pribadi yang Sama

Foto: pixabay.com

 

Tidak jarang, kita merespon cerita teman dengan pengalaman kita yang sama. Tujuannya untuk berbagi pengalaman. Siapa tahu solusi yang pernah kita ambil bisa menginspirasinya. Namun, jangan lupa, keadaan mental dan fisik setiap orang berbeda. Demikian juga dengan latar belakang masalahnya. Dalam keadaan emosi yang labil, ia mungkin akan salah menafsirkan. Bisa jadi malah menganggap kita sukses meng-handle masalah sejenis sementara dia tidak. Hal ini justru akan membuatnya merasa lebih buruk lagi, Dears!

 

4. Memberi Nasihat Tanpa Diminta

Foto: findloveandkeepit.com

 

Percaya atau tidak, terkadang orang yang bermasalah itu sebenarnya tahu solusi dari permasalahannya. Hanya saja, ia sendiri belum mau melakukannya. Memberi nasihat hanya akan menambah kegalauannya. Sebaiknya simpan dulu saranmu. Keluarkanlah jika ia meminta atau terlihat membutuhkannya.

 

5. Ikut Bercerita Tentang Masalah Sendiri

Foto: liesyoungwomanbelieve.com

 

Pernah mengalami yang seperti ini? Teman sedang curhat, kita pun rasanya juga ingin curhat. Biasanya, ini terjadi kalau yang mendengarkan curhat pun sedang memiliki masalah. Maksud sebenarnya mungkin baik.  Untuk menunjukkan bahwa setiap orang juga punya masalah. Namun, akhirnya malah teman kita yang jadi pendengar. Solusi yang dicari pun tidak jelas karena pembahasan jadi melebar kemana-mana. Tahan diri, Dears! Dengarkan saja. Ini ‘panggung’ teman kita untuk curhat. Tak perlu ikut naik dan membawakan cerita baru. Suasana malah akan menjadi  nyaman.

Semoga kita bisa menghindari kelima hal di atas, ya, Dears. Menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah. Namun, yang dianggap sahabat baik itu biasanya adalah mereka yang mau mendengarkan ketika dibutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *