pasar

5 Hal Ini Hanya Akan Kamu Temukan Ketika Berbelanja di Pasar Tradisional

Kehadiran pasar-pasar modern membuat pamor pasar tradisional sedikit goyang. Sebagian orang lebih menyukai berbelanja di pasar modern salah satunya karena kenyamanan dan kebersihan lokasinya. Kendati demikian, masih banyak orang yang memilih pergi ke pasar tradisional sekadar mencari bahan pangan pengisi kulkas.

Pasar tradisional yang terdiri dari kumpulan pedagang kecil sudah pasti menjual aneka produk lokal, ya, Dears. Nah, dengan membeli kebutuhan di pasar tradisional, secara tak langsung kamu telah membuktikan bahwa dirimu cinta Indonesia dan turut berperan dalam memajukan perekonomian bangsa. Tak sebatas itu saja, lo! Masih ada beberapa hal yang hanya akan kamu jumpai ketika berbelanja di pasar tradisional. Apa saja? Check this out, Dears!

1. Busana Ala Kadarnya

Kalau mau pergi belanja ke mall atau supermarket, umumnya seseorang akan mempersiapkan tampilan maksimal. Memilih baju bagus, berias, hingga mengenakan alas kaki cantik pun dilakukan demi tampil menawan saat shopping. Yups, supermarket memang nyaman banget, ya, Dears. Dilengkapi dengan pendingin ruangan serta terjaganya kebersihan lokasi, membuat kamu berpikir dua kali untuk mengenakan daster dan sandal jepit saat memasuki kawasan ini.

Lain halnya dengan pasar tradisional. Ketika hendak berbelaja di sana, kamu tak perlu memikirkan pakai baju apa atau bersolek dahulu. Cukup kenakan busana sehari-hari seperti kaos oblong, baju tidur, daster, plus sandal jepit. Hal ini dikarenakan kondisi pasar tradisional umumnya tidak sebersih pasar modern. Meski sudah banyak juga yang berbenah dan rapi, tapi masih ada pasar tradisional yang becek dan kadang berbau tak sedap, lo.

2. Bisa Tawar Menawar

Tak ada seorang pun yang melakukan tawar menawar ketika berbelanja di supermarket. Harga yang sudah pasti, memungkinkanmu untuk menjatuhkan pilihan di awal. Jadi, kamu sudah bisa memperkirakan apakah harga barang sesuai bujetmu? Atau kamu harus skip dan membeli lain waktu. Menghadapi kenyataan bahwa barang impian tak terbeli, kadang bikin dada sesak, ya. Lain di supermarket, lain pula di pasar tradisional. Jual beli di pasar tradisional memungkinkanmu melakukan tawar menawar. Sehingga apabila ada barang yang kamu taksir, namum harganya lewat dari anggaran, masih bisa dinego. Kamu pun belum sepenuhnya hilang kesempatan memperoleh barang idaman.

3. Lebih Fresh

Pasar tradisional biasanya buka pagi sampai dengan sore hari. Tak heran sayuran, buah, dan kebutuhan pokok yang dijual lebih segar ketimbang pasar modern. Kamu tidak perlu ragu pula pada kualitas barang di pasar tradisional. Para pedagang biasanya langsung mengambil dari pemilik kebun, sehingga tanpa lemari pendingin layaknya pasar modern pun bahan makanan tetap terjaga kesegarannya.

4. Harga Miring

Selanjutnya adalah harga yang miring. Biaya sewa dan pajak merupakan dua hal yang memengaruhi harga jual. Makin tinggi biaya sewa, harga produk pun akan kian melambung. Buat kamu yang punya bujet pas di kantong, berbelanja di pasar tradisional merupakan pilihan terbaik.

5. Adanya Interaksi

Saat datang ke supermarket, setelah mengambi troli atau keranjang belanja, kamu akan fokus mencari kebutuhanmu. Tidak lagi melirik kiri dan kanan, apalagi mengobrol dengan penjual hingga konsumen lain. Sementara di pasar tradisional, interaksi akan terbangun. Penjual serta pembeli biasanya melakukan interaksi, termasuk juga dengan orang-orang yang berbelanja di satu warung. Umumnya para ibu saling bertukar informasi. Kalau kamu sudah langganan berbelanja di sebuah lapak, biasanya penjual juga akan memberikan potongan harga atau bonus saat kamu membeli di sana lagi. Asyik banget, deh!

Tidak semua pasar tradisional berbau tak sedap dan becek. Banyak juga pasar yang sudah berubah wajah, sehingga tidak kalah nyaman dengan supermarket. Kamu bisa melihat Pasar Gede yang ada di Solo sebagai contoh, Dears. So, jangan ragu lagi untuk berbelanja di pasar tradisional, ya.

 

Featured image: Photo by  Min An on Pexels
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *