body dhismorphic

5 Bahaya Body Dismorphyic Disorder bagi Perempuan

Pernahkah kamu mengalami rasa cemas berlebihan jika ada kekurangan atau cacat meski hanya sedikit dari penampilan fisikmu? Jika iya, itu artinya kamu mungkin sedang mengalami body dismorphyc disorder.

Body dismorphyc disorder adalah gangguan jiwa berupa rasa cemas dan takut yang berlebihan terhadap penampilan fisik  yang mengalami kekurangan atau cacat meski hanya sedikit dan bahkan tidak diketahui orang lain. Realitasnya, penderita banyak dialami oleh kaum hawa yang sangat peduli pada penampilan.

Biasanya, orang yang mengalami body dismorphyic disorder cenderung sering mengecek kondisi tubuhnya dengan cara bercermin, merasa rendah diri, meminta pendapat orang lain dan memikirkan kritikan orang lain sehingga sering membuat kepalanya pusing. Selain itu, tak jarang di antara mereka juga suka berganti-ganti kosmetik dan tidak puas dengan hasil make up dalam situasi apapun.

Apakah gangguan jiwa ini berbahaya secara langsung untuk para penderitanya? Tentu saja, iya. Berikut ulasan lengkapnya. Yuk, simak!

1. Suka membandingkan diri dengan orang lain

Pict by. Halodoc

Body dismorphyc disorder mendorong penderitanya untuk terus membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Ibaratnya, kita selalu melihat ke atas dan enggan untuk menengok ke bawah. Selalu melihat hal yang luar biasa dan terus mengejarnya hingga bisa diraih sampai lupa untuk bersyukur. Memang, membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak selalu salah. Namun, jika dampaknya membuat kita selalu merasa kurang puas dengan hal yang kita miliki, sikap tersebut bukanlah sikap yang sehat.

 

2. Menghabiskan waktu untuk memperhatikan penampilan dan cacat fisik

Pict by. Medika Star

Body dismorphyc disorder juga mendorong penderitanya merasa cemas yang berlebihan terhadap kekurangan dan cacat meskipun kecil dan sedikit. Rasa cemas yang berlebihan ini sudah pada tahap yang tidak sehat. Terlalu banyak fokus pada perbaikan penampilan fisik tak selalu mendatangkan dampak positif bagi diri kita. Sebaliknya, kita justru melupakan perbaikan pada aspek-aspek lain seperti kepribadian, sikap, wawasan, paradigma dan sejenisnya. Jadi, jangan heran jika banyak perempuan cantik tapi tak berisi dan jauh dari kesan smart.

3. Menutup-tutupi kekurangan

Pict by. Pinterest

Menutupi kekurangan dalam rangka memperbaiki diri dan mengurangi kebiasaan kebiasaan buruk tentu hal yang sangat baik. Namun, berbeda halnya ketika sengaja menutupi hanya agar terlihat baik. Padahal, sebenarnya tidak begitu adanya. Penderita body dismorphyc disorder berpotensi melakukan hal tersebut. Pada akhirnya, perilaku-perilaku negatif mewarnai pribadi seseorang. Tidak jujur, manipulatif dan munafik adalah sederet contohnya.

4. Diet dan olahraga secara berlebihan

Pict by. Detik Health

Diet dan olahraga pada dasarnya adalah kebiasaan yang perlu dirutinkan. Diet yang baik adalah membuat menu makanan yang kita konsumsi lebih sehat dan ideal. Karbohidrat yang tidak terlalu banyak dan selalu ada asupan serat dan vitamin. Olahraga yang baik juga berdampak pada peredaran darah yang lancar dan berkeringat. Jika diet dan olahraga berlebihan, maka tubuh juga akan mudah jatuh sakit. Asupan gizi menjadi kurang dan tubuh menjadi lemas. Sesuatu yang berlebihan memang tidak akan baik untuk kita.

5. Cenderung berkeinginan oplas

Pict by. Liputan6.com

Operasi plastik sebenarnya adalah solusi bagi orang-orang yang mengalami kecelakaan fisik misalnya kebakaran, lakalantas, efek air keras dan lain-lain. Di masa kini, oplas justru meenjadi gaya hidup demi menunjang karir dan kecantikan semata. Oplas menjadi jalan yang dipilih oleh para public figure dan artis artis ternama. Bahkan, oplas diduga sudah menjadi kontrak yang harus dipenuhi oleh para trainee yang akan diorbitkan jadi idol di Korea Selatan. Padahal operasi plastik beresiko cukup besar dan membahayakan para pasiennya.

Nah, sebaiknya kamu yang mulai mengidap gejala body dismorphyic disorder perlu melakukan terapi secepatnya. Semoga bermanfaat.

 

Featured image: Photo by Neosiam2020 on Pexels
*Artikel merupakan kiriman kontributor. Semua isi artikel merupakan tanggung jawab penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *