5 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini dan Stimulasinya Agar Tercipta Generasi Cerdas dan Tangguh di Masa Depan

Dears, anak usia dini merupakan individu yang unik. Ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Beberapa ahli mendefinisikan anak usia dini adalah anak pada rentang usia 0-6 tahun yang sedang dalam masa Golden Age, yaitu masa percepatan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Pada masa ini stimulasi yang tepat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangannya.

Terdapat 5 aspek perkembangan anak usia dini yang perlu dikembangkan secara optimal agar anak mampu belajar menguasai keahlian tertentu, menghadapi tugas-tugas perkembangan, dan merespon stimulus yang ia terima dengan tepat melalui stimulasi sederhana dalam aktivitasnya sehari-hari. Di antara aspek-aspek perkembangan anak usia dini yang perlu kita ketahui antara lain:

1. Aspek Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif anak dapat terlihat dari kemampuannya dalam memahami sesuatu. Kita bisa mengetahuinya dengan melakukan tanya jawab atau mengobrol dengan anak.

Stimulasi sederhana yang dapat kita berikan, yaitu dengan membacakan cerita, bercakap-cakap dengan anak tentang kegiatannya sehari-hari, mengajak anak menghitung mobil-mobilannya, meminta anak menyebutkan bagian-bagian anggota tubuhnya, mengenalkan nama-nama sayuran yang akan kita masak, menyebutkan warna dan bentuk benda yang ada di sekitarnya, dan aktivitas lainnya yang dapat melejitkan perkembangan kognitifnya.

2. Aspek Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak yang terkoordinasi dan sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Seorang anak dapat mencapai tahap perkembangan motoriknya dengan optimal jika mendapatkan stimulasi yang tepat.

Untuk mengembangkan kemampuan motorik kasar anak, kita dapat mengajak anak berjalan di atas papan titian, berjalan di pematang sawah, mengajaknya lomba lari, menari, senam, naik sepeda, atau mengajak anak mengerjakan pekerjaan rumah yang sederhana, seperti menyapu lantai, mengepel kamarnya, dan melipat pakaian.

Sedangkan untuk menstimulasi motorik halusnya kita dapat mengajak anak untuk menggambar, mewarnai dengan krayon, menulis, meronce, memberinya kesempatan untuk makan sendiri, menggunting dan menempel kertas, serta masih banyak aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak.

3. Aspek Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan salah satu alat vital untuk menjalin komunikasi dengan anak. Perkembangan bahasa anak dimulai sejak ia dilahirkan, bahkan lebih jauh lagi sejak anak masih dalam kandungan ibu. Semakin sering anak diajak berkomunikasi maka semakin pesat perkembangan bahasanya.

Stimulasi yang tepat dapat memperkaya perbendaharaan kata dan pelafalan kalimat yang baik dan benar. Selain dengan mengajak anak berbicara, berdialog, bernyanyi, bertanya dan menceritakan apa yang dialaminya saat bermain, membacakan buku cerita juga dapat dengan cepat meningkatkan perkembangan bahasa anak.

4. Aspek Perkembangan Sosio-emosional

Lingkungan adalah faktor penting yang dapat memengaruhi kehidupan anak di masa depan. Di dalamnya anak belajar berinteraksi dengan keluarga, teman sebaya, dan orang dewasa lainnya yang melibatkan emosi, pikiran, dan tingkah laku mereka. Dengan mengoptimalkan perkembangan sosio-emosional dalam aktivitas kesehariannya, dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dan membuatnya lebih tenang di tengah banyak orang.

Treatment untuk menstimulasi perkembangan sosio-emosional anak bisa melalui bermain dan bekerja sama, berdialog dan bernegosiasi, bermain peran, memberi pujian atau hadiah untuk perilaku positif anak, memberikan perhatian dengan menunjukkan kasih sayang berupa pelukan, akrab dengan anak, serta menyamakan posisi tubuh sesuai tinggi anak dan selalu menatap mata ketika berbicara dengan anak agar ia merasa dirinya adalah prioritas.

Anak yang tumbuh dengan perkembangan sosio-emosional yang positif mampu lebih memahami diri sendiri dan orang lain, rendah hati, sadar akan perbedaan seksual, sehingga anak laki-laki lebih menyukai bermain dengan teman laki-laki dan anak perempuan lebih senang bermain dengan teman perempuan. Ia juga dapat mengikuti peraturan, memiliki sifat empati dan ramah, serta memiliki banyak teman.

5. Aspek Perkembangan Beragama

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Mereka memiliki kecenderungan untuk bergantung dan mengagungkan sesuatu yang Maha Besar, yaitu Allah SWT. Manusia akan sukarela melakukan aturan agama karena kebutuhan pada Tuhannya.

Begitu pun dengan seorang anak, hatinya yang masih suci akan lebih mudah disentuh dan menerima ajaran agama. Ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki perangai yang baik, patuh, sopan, santun, memiliki rasa malu, rendah hati, dan senang melakukan aktivitas ibadah.

Stimulasi perkembangan beragama sangat mudah ditemukan dan diterapkan dalam kegiatan anak sehari-hari. Ketika akan makan, kita dapat mengajarinya agar menggunakan tangan kanan dan mengucapkan Basmallah, mengenalkan Allah dengan melihat ciptaan-Nya, mengajaknya salat berjamaah, mengenalkan huruf-huruf hijaiyah dengan flash card, mendengarkan murottal, meminta si cantik bersabar saat memakai jilbab, berdoa setiap akan beraktivitas, dan mengamalkan nilai-nilai agama lainnya.

 

Dears, inilah 5 aspek perkembangan anak usia dini yang perlu diketahui agar kita sebagai orang tua dapat membersamai dan mengoptimalkan stimulasi tumbuh kembang anak dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah generasi yang cerdas dan tangguh di masa depan merupakan impian kita semua?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *