4 Hal Unik yang Hanya Muncul pada Bulan Ramadan di Gorontalo

Dears, sebagai bulan yang diistimewakan oleh umat muslim, Ramadan biasanya dipenuhi dengan kebiasaan-kebiasaan unik. Dikatakan unik karena hanya ditemukan atau dilakukan pada bulan itu saja. Misalnya, seperti menu khusus berbuka ataupun sahur, aktivitas-aktivitas di malam harinya, cara membangunkan sahur, tradisi menyiapkan lebaran, dan lain sebagainya.

Setiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda. Begitu juga Gorontalo yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ada beberapa hal yang hanya dilaksanakan pada bulan suci umat ini. Yuk, simak apa sajakah itu!

1. Kue Lopes

Kue lopes
Sumber: gorontalo trip.blogspot.com

Di Gorontalo, panganan yang berbalut kelapa parut dan gula merah cair ini hanya dapat kita temui di sore hari menjelang buka puasa. Di antara bermacam-macam jenis kue basah yang dijajakan, yang satu ini termasuk yang paling sering dicari orang. Selain karena rasanya memang enak, kemunculannya yang spesial hanya di bulan puasa membuat banyak orang yang tidak ingin menyia-nyiakannya. Menghadirkan lopes atau lupis di rumah pun seperti menjadi suatu keharusan.

Belum jelas alasannya mengapa kue ini tidak pernah muncul di bulan-bulan lain. Yang pasti, pada sore hari pertama puasa, kita bisa melihatnya hadir dan turut serta meramaikan barisan para kue basah lainnya.

2. Pasar Senggol Ramadan

Pasar senggol
Sumber: lintasgorontalo.com

Konon, istilah pasar senggol ini diberikan karena para pengunjung yang memenuhi pasar sering saling bersenggolan satu sama lain akibat ramainya orang yang datang. Pasar ini sebenarnya adalah kawasan yang disiapkan oleh Pemerintah sebagai tempat berjualan khusus untuk bulan puasa. Lokasinya terletak di sekitar pusat pertokoan atau perbelanjaan.

Tenda dan lapak-lapak untuk berjualan sementara didirikan berderet sepanjang jalan di depan pertokoan. Otomatis, jalan-jalannya tidak bisa dilalui oleh kendaraan dan hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki saja. Pengunjung yang membawa kendaraan harus menggunakan tempat parkir yang telah disediakan jauh di luar kawasan pasar.

Barang-barang yang dijual umumnya sama seperti yang ada di pertokoan , masih seputar pakaian, perlengkapan salat, kue-kue kering, dan lain sebagainya. Yang tidak biasa adalah harganya yang sedikit berbeda dengan harga toko dan bisa ditawar . Dimulai dari pertengahan bulan puasa dan berakhir pada malam lebaran, harga yang diberikan oleh para penjual bervariasi. Semakin lama akan semakin menurun. Bahkan, pada 3 malam terakhir jelang Hari Raya Idul Fitri, diskonnya bisa mencapai 80%. Dengan kata lain, semua barang diobral. Sangat menggoda, bukan?

3. Tumbilotohe atau Malam Pasang Lampu

Sumber: ezeepoints.id

Di 4 hari penghabisan puasa, ada tradisi malam pasang lampu yang dalam bahasa Gorontalo-nya disebut Tumbilotohe. Lampu-lampu minyak dalam botol kecil akan diletakkan di halaman depan rumah atau di sepanjang jalan sehingga suasana malam akan semakin gemerlap.
Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan lampu-lampu minyak ini pun mulai diambil alih oleh lampu listrik. Selain tidak memerlukan bahan bakar, pemasangannya pun lebih praktis dan nyalanya tahan lama. Tidak akan padam tertiup angin, bukan?

Selama 3 malam, kita bisa menikmati pemandangan kerlap kerlip lampu yang indah di berbagai tempat. Penataannya dibuat sekreatif dan seunik mungkin untuk menarik banyak pengunjung. Tidak heran jika dalam beberapa tahun ini, tumbilotohe di Gorontalo menjadi salah satu ajang foto yang paling ditunggu-tunggu oleh para milenials. Sangat instagramable!

Kota Gorontalo yang lalu lintasnya selalu lancar bahkan sampai mengalami kemacetan panjang disebabkan banyaknya kendaraan yang ke luar di saat bersamaan. Hampir semua orang ingin menikmati indahnya malam pasang lampu. Terlebih lagi bagi para vlogger , YouTubers dan fotografer.

4. Bunggo atau Meriam Bambu

Sumber: Wikipedia

Merupakan salah satu permainan tradisional Gorontalo berupa bambu yang bisa mengeluarkan bunyi dentuman seperti ledakan meriam. Mengapa hanya muncul di bulan Ramadan saja? Karena untuk mempersiapkan tumbilotohe, digunakan banyak batang-batang bambu berukuran besar sebagai tiang penyangga lampu ataupun gapura. Sisa-sisa bambu inilah yang kemudian dimanfaatkan menjadi bunggo dan obor mainan anak-anak.

Keempat hal di atas sangat ditunggu oleh masyarakat Gorontalo karena keberadaannya yang hanya setahun sekali. Apalagi, bagi para perantau yang berada di luar daerah. Bunggo dan tumbilotohe bahkan dijadikan festival yang tidak hanya menarik bagi masyarakat lokal, tetapi juga untuk para wisatawan. Jangan sampai melewatkannya jika sedang menghabiskan bulan Ramadan di Gorontalo ya, Dears.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *