Haid

3 Kondisi Haid dan Hukum-hukum di Dalamnya yang Harus Wanita Ketahui

Haid merupakan darah yang keluar dari rahim seorang wanita yang disebabkan oleh luruhnya dinding rahim bagian dalam yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi. Ini adalah suatu proses yang normal dan akan dialami oleh setiap perempuan dalam kurun waktu tertentu. Darah haid berwarna merah kehitaman yang kental dan terasa hangat.

Ketika haid, seorang perempuan dilarang untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu, seperti salat dan puasa, sampai masa haidnya berakhir. Sayangnya, lama masa haid yang dialami oleh masing-masing perempuan memang berbeda. Hal inilah yang menyebabkan perempuan sering kebingungan untuk menentukan kapan sekiranya bisa mengakhiri masa haid dan bersuci dari hadas besar tersebut.

Haid sendiri memiliki 3 kondisi yang masing-masing akan menentukan bagaimana hukum halal haramnya suatu aktivitas yang kita lakukan saat kita sedang haid. Dears, yuk kita cari tahu lebih dalam apa saja 3 kondisi tersebut dan bagaimana hukum-hukumnya.

1. Mubtadi

Kondisi mubtadi ini adalah kondisi yang dialami oleh perempuan yang baru saja mengalami haid atau menstruasi. Kondisi ini juga berlaku bagi perempuan yang setelah bertahun-tahun haid tetap mempunyai masa haid yang tidak teratur. Pada kondisi ini, jika seorang perempuan melihat darah pada pertama kalinya, maka wajib baginya untuk berhenti melakukan sholat, puasa, dan jima’ hingga masa haidnya berakhir.

 


Pilihan Editor:

Begini Seharusnya Tata Cara Mandi Wajib Bagi Muslimah, Pahami Yuk, Dears!

Imanmu Menurun Saat Haid? Lakukan 5 Tips Ini Agar Tetap Stabil!


 

Lama masa haid pada kondisi ini minimal satu hari dan maksimal 15 hari. Artinya, darah haid bisa saja berhenti pada range waktu tersebut. Setelah haid berhenti, wanita tadi wajib untuk bersuci dengan mandi dan sholat. Akan tetapi, apabila hingga lebih dari 15 hari dan masih keluar darah, maka darah tersebut dianggap sebagai darah istihadhah dan berlaku baginya hukum istihadhah.

2. Mu’taadah

Kondisi kedua yaitu mu’taadah. Kondisi ini berlaku bagi perempuan yang sudah memiliki masa haid yang teratur. Kondisi ini ditandai oleh siklus haid yang sama tiap periodenya. Cara mengetahuinya yaitu dengan mencatat setiap siklus haid yang dialaminya. Kapan awal haid terjadi dan kapan haid itu berakhir.

Cara menghitung siklus haid ini dihitung dari hari pertama haid sampai dengan satu hari sebelum haid selanjutnya. Siklus haid yang normal adalah 21-35 hari. Sedangkan siklus rata-rata perempuan pada umumnya adalah 28 hari. Lama waktunya berbeda-beda setiap orang. Pada hari-hari tersebut, wajib bagi seorang perempuan untuk meninggalkan salat, puasa, dan jima’.

Jika dia melihat warna kuning atau keruh selama masih berlangsung masa haid, maka itu dianggap sebagai darah haid dan berlaku hukum ketika perempuan haid. Akan tetapi, jika warna kuning atau keruh itu dilihatnya di luar masa haid, maka hal itu tidak dianggap haid dan tetap wajib melaksanakan solat sebagaimana mestinya. Hal ini seperti yang telah disampaikan oleh seorang shahabiyyah.

Dari Ummu Arhiyah, ia berkata : “Kami tidak menganggap warna kuning atau keruh sebagai darah haid setelah datangnya masa bersuci.” 

(HR.Bukhari)

Sebagai contoh, Fulanah memiliki siklus haid 28 hari dengan lama haid selama 7 hari. Apabila Fulanah mendapati keluarnya darah pada masa haid yang menjadi kebiasaannya, maka berlaku baginya hukum ketika haid. Akan tetapi jika darah keluar lebih dari 7 hari (masa haid kebiasaannya), maka darah itu dianggap sebagai darah istihadhah dan berlaku bagi Fulanah hukum istihadhah.

3. Mustahadhah

Kondisi yang ketiga adalah mustahadhah. Ini adalah kondisi ketika perempuan yang darahnya keluar di luar kebiasaan haidnya. Secara umum, darah ini disebut sebagai darah penyakit atau istihadhah. Jika perempuan mengalami hal semacam ini, maka dia tetap wajib melakukan salat dan puasa selama masa keluarnya darah istihadhah ini.

Itu tadi 3 kondisi haid yang dialami oleh para perempuan. Untuk mengetahui haid kita masuk dalam kondisi yang mana, penting bagi kita untuk mencatat setiap tamu bulanan yang datang. Jangan sampai kita keliru menentukan mana darah haid dan mana darah istihadhah hanya karena kita tidak tahu bagaimana siklus bulanan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *