sukses dunia akhirat

Optimalisasi Waktu Agar Sukses Dunia dan Akhirat

Setiap orang tentu menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Sukses dalam menjalankan bisnis, sukses dalam berkarier, sukses dalam pendidikan, hingga sukses dalam urusan asmaranya. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan agar kita dapat meraih kesuksesan tersebut. Ketika kita menginginkan bisnis atau karier kita berjalan lancar, ada banyak sekali jalan yang dapat ditempuh. Ketika kita menginginkan pendidikan kita sukses, meraih nilai terbaik, ada banyak cara bisa diusahakan. Begitu juga soal asmara, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sebagai seorang muslim, ketika kita memilih sebuah jalan untuk meraih kesuksesan, tentu kita tidak boleh mempertimbangkan dunia saja, Dears. Kita pun perlu mempertimbangkan akhirat kita. Kita perlu menakar, menimbang, dan memilah apakah pilihan yang dipilih itu bisa mengantarkan kita menuju surga ataukah tidak. Sikap semacam ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr : 18)

Fasa Hidup Manusia

sukses dunia akhirat
Foto: Pexels.com

Manusia akan mengawali fasa hidupnya di dunia ketika dia dilahirkan ke dunia ini. Kemudian, dia akan mengakhiri fasa hidupnya di dunia ketika dia mati. Namun, kita sebagai manusia perlu menyadari bahwa setelah kematian ada fasa hidup yang jauh lebih lama dibanding kehidupan di dunia, yaitu kehidupan di akhirat. Dalam fasa hidup ini, kita akan hidup abadi selamanya.

Kehidupan kita di dunia adalah sarana yang telah Allah berikan agar kita bisa mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan di akhirat. Sukses dan gagal akan berlaku setelah sekian banyak usaha yang kita lakukan. Bila kita gagal dalam kehidupan akhirat, maka kita akan menyesal, menderita, tersiksa, dan teraniaya selamanya. Sebaliknya, bila kita sukses dalam kehidupan di dunia, maka kita akan bahagia selamanya pula.

Dalam fasa hidup kita di dunia, sadari bahwa kehidupan kita ini hanyalah sekali, sebentar saja, dan tidak akan terulang lagi. Hal ini telah Allah jelaskan dalam firman-Nya:

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”

(QS. An-Nazi’at: 46)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”

(QS. Al-Ma’arij:4)

Ayat di atas telah menjelaskan kepada kita betapa singkatnya kehidupan kita di dunia. Bila kita mau mengonversikan waktu sehari kita di dunia dengan akhirat kita, maka kita akan mendapati waktunya kira-kira hanya 2 menit 1 detik saja. Waktu yang amat singkat, ya, Dears?

Itulah waktu sehari yang kita miliki. Pertanyaan selanjutnya, sampai usia berapakah kita akan hidup?

Investasi Usia

sukses dunia akhirat
Foto: Pexels.com

Allah telah memberi kesempatan yang cukup kepada orang yang dilanjutkan usianya sehingga enam puluh tahun.

(HR. Bukhari)

Hadist tersebut telah menjelaskan rata-rata umur yang dimiliki oleh ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nyatanya, kita tahu bahwa ada orang yang memiliki umur yang bahkan kurang dari 60 tahun. Dari umur yang kita miliki, benarkah seluruh umur kita dapat diinvestasikan untuk akhirat kita? Ternyata tidak!

Untuk memudahkan, kita akan mengambil contoh dengan umur rata-rata yang dimiliki oleh ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu 60 tahun. Fulanah ketika lahir di dunia, ternyata oleh Allah diberikan batas waktu hingga usia 60 tahun saja. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, 60 tahun ini ternyata tidak bisa Fulanah investasikan seluruhnya. Waktu yang bisa Fulanah investasikan akan dikurangi dengan masa kanak-kanak Fulanah hingga dia baligh. Jika Fulanah baligh pada usia 15 tahun, maka tersisa 45 tahun yang bisa Fulanah manfaatkan.

45 tahun waktu sisa yang dimiliki oleh Fulanah, ternyata juga tidak bisa diinvestasikan secara keseluruhan. Waktu itu harus dikurangi dengan masa Fulanah tidak sadar, entah ketika dia gila, pingsan, atau tidur. Mudahnya, kita asumsikan Fulanah ini sehat secara lahiriah maupun mental. Kita hanya perlu mengurangi waktu tersebut dengan masa tidurnya saja. Bila Fulanah tidur rata-rata 8 jam per hari, maka sepertiga waktu hidup Fulanah dihabiskan hanya untuk tidur. 45 tahun dibagi 3, hingga kita akan mendapati waktu tidur total Fulanah setelah baligh sebanyak 15 tahun.

Lalu, berapa sisa waktu yang dapat diinvestasikan Fulanah?

60 tahun – Masa kanak-kanak (15 tahun) = 45 tahun

45 tahun – waktu tidur (45 tahun /3) = 45 tahun – 15 tahun = 30 tahun

Kurang lebih waktu yang bisa diinvestasikan oleh Fulanah adalah 30 tahun saja. Lalu, bagaimana bila usia yang kita miliki jauh lebih singkat dari Fulanah?

Mari, kita coba renungkan bersama, Dears, tentang waktu yang kita miliki saat ini. Sudahkah kita gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk mencari bekal kita di akhirat nanti? Ataukah kita justru lalai dan sibuk dalam kemaksiatan-kemaksiatan? Ingatlah, bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah tempat kita untuk menanam amal shalih sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena bekal yang kita miliki tak cukup untuk mengantarkan kita ke surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *